"Kecuali ada sinyal de-eskalasi yang muncul dengan cepat, kami perkirakan harga minyak akan melonjak signifikan di awal minggu," tuturnya.
Prediksinya nyaris pasti. Saat pasar dibuka nanti, harga minyak dipastikan langsung meroket. Jika ketegangan masih berlanjut hingga Minggu, kenaikan bisa berkisar 5 hingga 10 dolar AS di atas harga dasar saat ini yang sekitar 73 dolar AS. Apalagi jika isu tentang Iran menutup Selat Hormuz dan gangguan pada kapal tanker semakin kencang.
Namun begitu, skenario terburuk mungkin baru akan benar-benar dihadapi pasar pada hari Senin. Brent, patokan minyak dunia, disebut-sebut berpotensi menyentuh level psikologis 100 dolar AS per barel. Bayangan itu muncul karena pasar sedang bergulat dengan ancaman gangguan pasokan di tengah situasi keamanan yang makin runyam.
Pendapat senada datang dari Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Asia. Dia menilai harga minyak kemungkinan akan bertahan di level tinggi. Alasannya sederhana namun mengkhawatirkan: fasilitas produksi dan jalur pelayaran di kawasan itu sangat rentan jadi target serangan atau gangguan.
Dalam kondisi seperti ini, tekanan juga bakal membesar di pundak OPEC. Organisasi negara pengekspor minyak itu mungkin akan didesak untuk menambah produksi, berusaha menutupi kekosongan yang mungkin terjadi dan menstabilkan pasar. Tapi, apakah itu cukup? Itu pertanyaan besar yang jawabannya masih tersembunyi di balik asap konflik.
Artikel Terkait
Iran Serang Dubai dan Kawasan Teluk, Hotel Mewah dan Bandara Terdampak
IRGC Sumpah Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei
Media Iran Konfirmasi Kematian Ayatollah Khamenei dalam Serangan AS-Israel
Gubernur DKI Peringatkan Dampak Global Konflik Iran-Israel ke Harga Pangan Jakarta