IRGC Sumpah Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei

- Minggu, 01 Maret 2026 | 10:00 WIB
IRGC Sumpah Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei

Jakarta diguncang kabar duka dari Teheran. Korps Garda Revolusi Iran, atau IRGC, baru saja mengeluarkan pernyataan keras. Mereka bersumpah akan membalas dendam atas kematian pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Intinya jelas: pihak yang bertanggung jawab tak akan dibiarkan lolos begitu saja.

“Tangan balas dendam bangsa Iran…tidak akan membiarkan mereka lolos,” begitu bunyi pernyataan resmi IRGC yang dilansir kantor berita Fars, Minggu (1/3/2026).

Tak cuma soal balas dendam, pernyataan itu juga menegaskan kesiapan korps elite ini untuk berdiri tegak. Mereka berjanji akan menghadapi apa pun yang disebut sebagai “konspirasi domestik dan asing” dengan gigih.

Di sisi lain, nada duka cita yang mendalam juga sangat terasa. IRGC menyatakan kehilangan yang amat besar. “Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” tulis mereka, seperti dikutip Fars.

Lebih jauh, pernyataan itu menyiratkan sebuah narasi heroik. Kematian Khamenei digambarkan bukan sebagai kekalahan, melainkan legitimasi. “Kemartiran Khamenei di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan adalah tanda legitimasi pemimpin besar ini,” tegasnya, menekankan pengabdian sang Ayatollah.

Sementara gelombang reaksi datang dari berbagai penjuru. Melansir Al Jazeera, Reza Pahlavi putra dari Shah Iran yang digulingkan justru menyampaikan hal yang bertolak belakang. Ia malah mengucapkan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas operasi militer yang diluncurkan terhadap Iran.

“Saat pembebasan mereka sudah dekat,” ucap Pahlavi penuh keyakinan.

Dalam pernyataannya, dia mengakui pengorbanan rakyat Iran. “Rakyat Iran yang berani telah membayar harga yang mahal untuk kebebasan,” katanya. Pahlavi, yang memang bercita-cita memimpin Iran kembali, mengklaim telah menyiapkan blueprint untuk perubahan. Ia menjabarkan rencana konkret “untuk transisi yang tertib dan transparan menuju Iran yang demokratis”.

Jadi, di satu sisi ada sumpah serapah dan janji balas dendam. Di sisi lain, ada harapan dan rencana transisi dari pihak oposisi. Situasinya memanas, dan dunia jelas menunggu perkembangan selanjutnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar