Tokoh MUI Desak China dan Rusia Bantu Iran Hadapi Serangan AS-Israel

- Minggu, 01 Maret 2026 | 10:15 WIB
Tokoh MUI Desak China dan Rusia Bantu Iran Hadapi Serangan AS-Israel

Serangan AS dan Israel ke Iran akhir pekan lalu terus memantik reaksi. Tak cuma dari kalangan politisi, pengamat pun angkat bicara. Salah satunya Anwar Abbas, seorang pengamat sosial ekonomi dan keagamaan yang juga Wakil Ketua Umum MUI.

Menurutnya, sudah waktunya China dan Rusia tampil lebih nyata. "Kalau Israel dibantu Amerika, ya semestinya Iran juga dibantu," ujarnya kepada wartawan, Minggu (1/3/2026).

Anwar berpendapat, kedua negara besar itu perlu unjuk gigi. Dengan menggerakkan armada mendekati kawasan Teluk, misalnya. Hal itu, katanya, bisa membuat Washington berpikir ulang bahkan sepuluh kali sebelum melancarkan serangan lebih jauh. Apalagi, AS sendiri sebenarnya punya catatan kelam dalam intervensi militer.

"Amerika tahu betul. Kalau mereka terseret perang langsung yang berkepanjangan, peluang untuk menang justru kecil. Lihat saja sejarah," tegas Ketua PP Muhammadiyah itu.

Ia lalu menyebut dua contoh: Vietnam dan Afghanistan.

"Di Vietnam dulu, AS akhirnya mundur setelah berhadapan dengan taktik gerilya Tentara Viet Cong. Perjanjian Paris 1973 itu menjadi buktinya," kenang Anwar.

"Begitu pula di Afghanistan. Senjata canggih AS ternyata tak mampu meluluhkan semangat Taliban. Alhasil, mereka terpaksa angkat kaki dari negeri para mujahidin itu di tahun 2021."

Dari situlah Anwar Abbas mendorong langkah yang lebih tegas. Ia berharap Iran, didukung China dan Rusia, tak ragu menunjukkan kekuatan.

"Sudah saatnya Iran menghadapkan moncong senjata balistiknya ke Washington DC dan Tel Aviv. Tujuannya, untuk menghancurkan 'singgasana' Trump dan Netanyahu," paparnya dengan nada tegas.

"Dunia sekarang ini rindu suatu hari di mana kita bisa hidup tanpa kehadiran kedua pemimpin itu. Aksi bersama dari Iran, China, dan Rusia sangat penting untuk menghentikan kesewenang-wenangan AS dan Israel," imbuh Anwar.

Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2) itu memang disebut sangat brutal. Kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran dihujani puluhan bom. Media Iran melaporkan, Khamenei dinyatakan tewas dalam serangan tersebut. Bahkan putri dan cucunya ikut menjadi korban.

Dengan situasi seperti ini, desakan agar negara-negara besar lain turun tangan semakin keras. Seperti kata Anwar, semua kini menunggu langkah nyata.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar