Asap hitam pekat tiba-tiba memenuhi langit Dubai. Hotel Fairmont The Palm, salah satu ikon kemewahan di Palm Jumeirah, dilalap si jago merah pada hari Sabtu lalu. Kejadian ini bukan kecelakaan biasa. Menurut video yang sudah diverifikasi BBC, kebakaran hebat itu adalah bagian dari serangan yang dilancarkan Iran.
Iran sendiri tak menyembunyikan niatnya. Mereka menyebut serangan ini sebagai balasan atas aksi AS dan Israel di wilayahnya. Media Iran sebelumnya memang sudah mengabarkan serangan ke Dubai, meski target pastinya masih simpang siur.
Korban pun berjatuhan. Kantor Media Dubai melaporkan empat orang terluka dalam insiden di bandara internasional kota itu. Aula bandara mengalami kerusakan ringan. Sementara untuk kebakaran hotel, pejabat setempat juga menyebut empat orang cedera, tapi detailnya masih ditutupi.
Gambaran mencekam itu tertangkap jelas dari sebuah video amatir. Rekaman dari gedung seberang hotel menunjukkan sebuah benturan keras, lalu diikuti ledakan dahsyat. Bola api berwarna oranye menyala-nyala. Orang yang merekam pun terlihat terjatuh karena hentakan ledakan. Tak lama, kepulan asap besar sudah mengepul di atas hotel bintang lima itu.
Seorang wanita Inggris yang sedang berada di Dubai Marina, dekat Pantai Jumeirah, membenarkan suasana mencekam itu.
"Saya mendengar ledakan yang sangat keras," katanya kepada BBC. "Lalu ada asap hitam besar. Selanjutnya, selama kira-kira lima menit, terdengar rentetan suara rudal-rudal yang berusaha ditembak jatuh di langit."
Serangan ini ternyata tak hanya menyasar Dubai. Wilayah lain di Teluk juga jadi sasaran. Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait melaporkan upaya intercept terhadap rudal-rudal Iran. Bahkan, lokasi-lokasi pangkalan militer AS ikut menjadi target.
Di Manama, Bahrain, misalnya, kepulan asap hitam besar terlihat membubung dari area dekat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Besaran kerusakannya masih diselidiki, dan AS sendiri belum memberikan komentar resmi.
Kementerian Pertahanan Qatar dengan tegas menyatakan mereka telah menembak jatuh beberapa rudal yang menuju pangkalan udara al-Udeid. Pangkalan ini dikenal sebagai basis terbesar AS di kawasan tersebut.
Menanggapi serangan ini, pemerintah Uni Emirat Arab tak tinggal diam. Melalui Kementerian Pertahanannya, UEA menyatakan telah berhasil mencegat sejumlah drone dan rudal. Mereka dengan keras mengecam aksi Iran, menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional.
Di Bahrain, situasinya juga cukup parah. Kementerian Dalam Negeri setempat mengonfirmasi tiga bangunan di Manama dan Muharraq terkena serangan drone. Puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat pun berhamburan. Saat ini, tim masih melakukan penilaian kerusakan di dua lokasi kejadian.
Kehadiran militer AS di Timur Tengah memang cukup signifikan. Sekitar 30.000 hingga 40.000 pasukan biasanya ditempatkan di 13 pangkalan yang tersebar di berbagai negara. Itu mungkin yang membuat mereka kerap menjadi sasaran dalam ketegangan geopolitik seperti ini.
Sampai berita ini diturunkan, situasi masih tegang. Asap mungkin sudah sirna, tapi ketakutan dan pertanyaan tentang eskalasi konflik berikutnya masih menggantung di udara.
Artikel Terkait
Kemlu Pastikan 934 WNI di Lebanon dalam Kondisi Aman Meski Situasi Mencekam
Roy Suryo Sindir Rismon Soal SP3: Zombie Itu Sudah Bikin Surat Kematian Palsu
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
Remaja 14 Tahun Tembak Mati 9 Orang di Sekolah Turki, Profil WhatsApp Tampilkan Pelaku Penembakan AS