Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia bagian barat, dengan Provinsi Aceh dan Riau mencatatkan kerusakan paling parah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa lebih dari 15 ribu hektare lahan telah hangus terbakar di kedua provinsi tersebut, menjadikannya salah satu bencana lingkungan yang paling mengkhawatirkan dalam beberapa pekan terakhir.
Di Provinsi Aceh, kebakaran terpantau melanda tiga gampong yang tersebar di dua kecamatan di Kabupaten Aceh Barat. Lokasi-lokasi yang terdampak meliputi Gampong Berawang dan Gampong Kuta Padang Layung di Kecamatan Bubon, serta Gampong Lapang di Kecamatan Johan Pahlawan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa total luas lahan yang terbakar pada Sabtu, 30 Mei 2026, di kedua kecamatan tersebut mencapai 13 hektare.
“Total luasan lahan terbakar yang terjadi pada Sabtu (30/5/2026) di kedua kecamatan tersebut mencapai 13 hektare,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 2 Juni 2026.
Proses pemadaman api di lapangan tidak berjalan mulus. Petugas gabungan yang diterjunkan menghadapi kendala serius akibat angin kencang yang membuat api mudah menyebar ke area lain. Selain itu, asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran turut mengganggu jarak pandang, sehingga memperlambat upaya penanganan. Hingga Senin, 1 Juni 2026, tim pemadam yang terdiri atas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kecamatan Woyla, dan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih berjuang memadamkan api di Kecamatan Bubon. Sementara itu, api di Kecamatan Johan Pahlawan dilaporkan telah padam total.
“Hingga Senin (1/6/2026), tim pemadam api yang terdiri atas BPBD Kabupaten Aceh Barat, Damkar Kecamatan Woyla, dan personel TNI masih berupaya melakukan pemadaman api di Kecamatan Bubon. Sementara itu, api di Kecamatan Johan Pahlawan sudah padam total,” kata Abdul Muhari, yang akrab disapa Aam.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Pada Senin, 1 Juni 2026, pukul 13.15 WIB, api melanda Kampung Simpang Balek, Kecamatan Wih Pesam, menghanguskan lahan seluas satu hektare. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dari BPBD Kabupaten Bener Meriah dan armada pemadam kebakaran dari Pos Damkar Utama.
“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Api yang menghanguskan 1 hektare lahan tersebut berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dari BPBD Kabupaten Bener Meriah dan armada pemadam kebakaran dari Pos Damkar Utama,” jelas Aam.
Memasuki musim kemarau, karhutla juga terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Desa Simpang 4 Rajawali, Kecamatan Ketol, pada hari yang sama. Lahan yang terbakar seluas satu hektare dan api telah berhasil dipadamkan. Personel gabungan dari BPBD Aceh Tengah, Damkar, TNI, dan Polri terus melakukan pemantauan dan penanganan untuk mencegah meluasnya kebakaran.
“Lahan terbakar seluas satu hektare dan api telah padam. Personel gabungan dari BPBD Aceh Tengah, Damkar, TNI, dan Polri terus berupaya melakukan pemantauan dan penanganan,” kata dia.
Sementara itu, dari Provinsi Riau, yang menjadi salah satu daerah prioritas penanganan karhutla, situasi tidak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), total luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 1 Juni 2026 mencapai 15.031,58 hektare. Penambahan luasan lahan terbakar terjadi di beberapa lokasi, antara lain lima hektare di Bukit Lumut, Desa Cipang Kiri Hulu, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu; 44,4 hektare di Dusun Sejati, Kepenghuluan Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir; dan satu hektare di RT 03/RW 01, Kelurahan Kandis Kota, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak.
Menghadapi situasi ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dapat dipicu oleh cuaca ekstrem selama masa peralihan musim. “BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat dipicu oleh cuaca ekstrem selama masa peralihan musim, seperti angin kencang, hujan ekstrem, angin puting beliung, banjir, dan gelombang tinggi,” kata Aam.
Artikel Terkait
PLN dan BDx Data Centers Jalin Kerja Sama Pasok Listrik 1,2 GW untuk Dukung Pusat Data AI di Indonesia
Mendiktisaintek Pastikan Dugaan Riset Palsu Peneliti Indonesia di Forum Dunia Diproses Hukum
NTP Hortikultura Melonjak 7,08 Persen, BPS: Harga Beras Justru Terus Naik di Semua Lini Distribusi
444 Jemaah Haji Kloter Pertama Kota Bekasi Tiba di Tanah Air