NTP Hortikultura Melonjak 7,08 Persen, BPS: Harga Beras Justru Terus Naik di Semua Lini Distribusi

- Selasa, 02 Juni 2026 | 14:00 WIB
NTP Hortikultura Melonjak 7,08 Persen, BPS: Harga Beras Justru Terus Naik di Semua Lini Distribusi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan kesejahteraan produsen pangan nasional pada Mei 2026, yang ditunjukkan oleh kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) secara signifikan. Namun, di sisi lain, harga komoditas beras di berbagai lini distribusi justru terus merangkak naik, menciptakan dinamika yang kontras di sektor pangan.

Data terbaru BPS mengindikasikan bahwa daya beli petani mengalami perbaikan karena harga jual produk pertanian yang mereka hasilkan naik lebih tinggi dibandingkan biaya konsumsi dan biaya produksi. Komoditas seperti karet, gabah, kakao, dan bawang merah menjadi pemicu utama yang memperkuat kondisi keuangan petani secara nasional. Indikator kesejahteraan ini menunjukkan tren positif, terutama bagi petani tanaman pangan dan hortikultura, di mana sektor hortikultura mencatatkan performa paling gemilang dengan lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan subsektor lainnya.

“Nilai Tukar Petani untuk Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026. Subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP tertinggi sebesar 7,08 persen karena Indeks Diterima Petani naik sebesar 7,52 persen, sedangkan Indeks Dibayar Petani hanya naik sebesar 0,41 persen,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam paparannya di agenda Berita Resmi Statistik, Selasa (2/6/2026).

Pudji merinci bahwa kenaikan di subsektor hortikultura tersebut dipengaruhi secara dominan oleh komoditas bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Meski demikian, di balik penguatan daya beli petani tersebut, tantangan inflasi masih terlihat pada komoditas pangan pokok, khususnya beras. BPS mencatat kenaikan harga beras terjadi secara berjenjang di seluruh lini distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, pasar grosir, hingga lapak pedagang eceran di seluruh wilayah Indonesia.

“Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Mei 2026 secara total naik 0,58 persen secara month-to-month dan naik sebesar 8,10 persen secara year-on-year. Sementara di tingkat grosir terjadi inflasi beras sebesar 0,68 persen, dan di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,38 persen secara bulanan,” kata Pudji. Di tingkat penggilingan, harga beras premium tercatat naik 0,56 persen secara bulanan, sedangkan beras kualitas medium mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yakni 0,79 persen.

Sementara itu, kondisi berbeda justru dialami oleh sektor perikanan tangkap. Berbanding terbalik dengan sektor pertanian, Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada Mei 2026 justru mengalami kontraksi atau turun sebesar 0,47 persen. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan indeks yang diterima nelayan dari hasil penjualan rajungan, kepiting laut, dan ikan kembung hanya sebesar 0,03 persen, yang tidak mampu mengimbangi kenaikan indeks biaya yang harus mereka bayarkan yang mencapai 0,51 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa beban biaya hidup dan operasional nelayan saat ini lebih besar dibandingkan pendapatan yang mereka peroleh dari hasil laut.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar