Jakarta – Suasana di Masjid Baitut Tholibin, yang terletak di kompleks Kemendikdasmen, Jumat lalu benar-benar berbeda. Lebih dari seribu jemaah memadatinya, antusias mendengarkan khutbah dari Ustaz Abdul Somad. UAS, begitu ia biasa disapa, berbicara panjang lebar tentang pendidikan. Baginya, pendidikan adalah fondasi utama untuk memajukan bangsa dan mengangkat martabat manusia.
Kegiatan itu sendiri bukan cuma salat Jumat biasa. Rupanya, ada acara bedah buku karya UAS berjudul “35 Kisah Saat Maut Menjemput” yang digelar oleh Kemendikdasmen bersama dua kementerian lain. Acara ini digadang-gadang sebagai bagian dari gerakan penguatan literasi, khususnya di bidang keagamaan, dengan memanfaatkan masjid sebagai ruang belajar yang hidup.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tampak sangat mengapresiasi. Ia tak cuma senang dengan kehadiran UAS, tapi juga semangat jemaah yang memadati acara.
“Bedah buku ini jadi upaya kami untuk meningkatkan literasi, termasuk literasi sosial dan keagamaan, lewat masjid sebagai sarana. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa berlangsung rutin,” ujar Mu’ti dalam sebuah keterangan tertulis pada Minggu, 1 Maret 2026.
Menurutnya, kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian punya tujuan yang lebih dalam: membangun atmosfer kerja yang religius dan penuh integritas.
“Kami ingin menghadirkan lingkungan kerja yang religius, sehingga berdampak pada kesalehan dan tanggung jawab seluruh insan pendidikan,” lanjutnya.
Mu’ti juga punya pesan khusus untuk para ASN. Ia mengingatkan agar mereka bekerja secara profesional dan menjadikan setiap tugas sebagai bentuk ibadah.
“Bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, jauhi hal-hal yang melanggar hukum, dan hindari segala perilaku yang berbau korupsi,” tegasnya.
Pesan UAS: Pendidikan Lebih Berharga dari Harta
Dalam khutbahnya, UAS menyelipkan kisah menarik dari Perang Badar. Saat itu, Rasulullah SAW membebaskan tawanan perang dengan satu syarat unik: mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim. Bukan tebusan harta yang diminta.
“Islam lebih mengedepankan pendidikan ketimbang harta. Dengan pendidikan, seseorang bisa dapat harta. Tapi harta tanpa pendidikan yang baik ya habis begitu saja,” ungkap UAS.
Pendidikan dalam Islam, menurutnya, cakupannya luas. Bukan cuma ilmu agama, tapi juga ilmu tentang alam semesta. Ia juga menyinggung soal Ramadan, yang disebutnya sebagai proses pendidikan panjang untuk melatih pengendalian diri, termasuk mengelola emosi.
“Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, itulah ciri orang yang terdidik,” jelasnya.
UAS kemudian menjabarkan makna guru dalam tradisi Islam. Guru bukan sekadar pengajar, tapi juga pembimbing adab dan penerus tugas kenabian. Sosoknya harus jadi teladan, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran guru dan tokoh pendidikan. Beberapa nama besar seperti Jenderal Sudirman dan A.H. Nasution, ternyata awalnya adalah pendidik sebelum akhirnya turun ke medan perang.
Organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan Al Jam'iyatul Washliyah juga disebut punya andil besar. Mereka membangun kesadaran kebangsaan lewat jaringan pendidikan dan pesantren.
Di akhir tausiyahnya, UAS menyampaikan pesan penutup yang cukup menggigit. Ia mengingatkan agar warisan perjuangan para pendidik di masa lalu jangan sampai dirusak oleh kepentingan duniawi yang sempit.
“Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” pungkasnya.
Penulis: Lidya Thalia.S
Editor: Redaktur
Artikel Terkait
Helikopter PK-CFX Hilang Kontak di Sekadau, Delapan Orang dalam Pencarian
detikcom dan BAKTI Komdigi Gelar Apresiasi Konektivitas Digital 2026 untuk Para Penghubung Negeri
Basarnas Kerahkan Tim Gabungan Cari Helikopter Hilang di Sekadau
Wakil Ketua MPR Desak Pengakuan Hak Perempuan Adat untuk Hadapi Krisis Iklim dan Pangan