Di sisi lain, Qatar merasa langkahnya selama ini berupaya menjauh dari konflik regional justru dibalas dengan tindakan tak bersahabat. Mereka merasa jadi korban dari ketegangan yang sebenarnya sedang coba mereka redakan. Serangan ini, bagi mereka, mengikis fondasi kesepahaman dengan Iran.
Kecaman Qatar ternyata tak hanya untuk dirinya sendiri. Mereka juga menyatakan solidaritas penuh kepada Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Bahrain yang juga jadi sasaran dalam gelombang agresi Iran kali ini. Doha mendukung langkah-langkah yang diambil negara-negara tetangganya itu untuk menjaga keamanan masing-masing.
Di akhir pernyataannya, seruan untuk berhenti dikumandangkan. Kementerian Luar Negeri Qatar mendesak penghentian semua tindakan eskalatif. "Kembali ke meja perundingan," tulis mereka, menekankan pentingnya akal sehat dan kebijaksanaan agar konflik tidak meluas.
Gelombang serangan Iran malam itu memang luas jangkauannya. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tak hanya menargetkan Israel, tapi juga pangkalan militer AS di Timur Tengah. Di Bahrain, misalnya, ledakan terdengar di sekitar markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS. Peringatan darurat pun dikeluarkan, mendesak warga mencari tempat aman.
Qatar sendiri bergerak cepat. Sistem pertahanan udara mereka diklaim berhasil mencegat satu rudal Iran menggunakan Patriot. Sementara di tempat lain, Abu Dhabi juga dilaporkan mendengar ledakan. Dan di Kuwait, sirene serangan udara berbunyi di seantero negara, menandakan situasi yang benar-benar mencekam.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Peringatkan Dampak Global Konflik Iran-Israel ke Harga Pangan Jakarta
Iran Serang Aset Militer AS di Teluk Arab, Klaim Balas Serangan AS-Israel
Trump Klaim Khamenei Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel, Ancam Lanjutkan Operasi Militer
Ekspor Minyak Sawit Indonesia 2025: Volume Naik 9,5%, Nilai Melonjak 29,2%