Manfaat untuk pesertanya juga cukup menggiurkan. Selain dapat sertifikat pelatihan dan kompetensi dari BNSP, mereka juga berhak mendapat bantuan transportasi Rp20 ribu per hari selama pelatihan, serta iuran JKK dan JKM. Bahkan, untuk peserta dari luar kota, tersedia fasilitas asrama pada pelatihan tertentu.
Kalau dilihat dari data, program ini sepertinya sangat dibutuhkan. Jumlah lulusan SMA/SMK tahun ajaran 2024/2025 saja mencapai 3,28 juta jiwa. Sementara itu, data BPS menunjukkan kontribusi besar mereka di dunia kerja: lulusan SMA menyumbang 20,99% dari total pekerja nasional, dan lulusan SMK sekitar 14%. Gabungan keduanya mencapai 35% dari total angkatan kerja kita.
Jadi, wajar jika program vokasi mendapat perhatian serius.
Pilihan bidang pelatihannya pun beragam banget. Mulai dari yang teknis seperti Teknologi Informasi, Otomotif, hingga Kelistrikan. Ada juga yang terkait tren kekinian seperti Pemasaran Digital, Keamanan Siber, sampai Kendaraan Listrik. Tak ketinggalan pelatihan prioritas Presiden, semisal Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis.
Secara keseluruhan, ada lebih dari 820 kelas yang fokus pada 31 kejuruan. Metodenya fleksibel, bisa luring, daring, atau hybrid.
Menurut Airlangga, program ini sejalan dengan program magang yang sudah berjalan, dan memang dikhususkan untuk lulusan SMA/SMK.
"Kami apresiasi Kemnaker. Semoga program ini bisa dimanfaatkan para pelajar untuk mempersingkat jarak antara bangku sekolah dan dunia kerja," ujarnya.
"Program ini akan terus kami dorong dan sempurnakan, sesuai arahan Bapak Presiden," pungkas Airlangga.
Artikel Terkait
Bnetfit Transformasi dari ISP ke Solusi ICT, Target Jadi Juara Nasional 2026
Sekjen Kabinet Bantah Isu Pemerintah Abaikan Guru, Sebut Tiga Bukti Perhatian
Indonesia Kecam Aneksasi Israel di Tepi Barat sebagai Pelanggaran Hukum Internasional
KPK Geledah Rumah Eks Pj Sekda Pati Terkait Kasus Suap Pengisian Jabatan