“(Ini) untuk menunjukkan bahwa kami bisa bekerja tanpa pemberosan ekstrem. Pola pengelolaan anggaran seperti inilah yang ingin kami ubah di era sekarang,” jelasnya.
Soal pendanaan, Joao mengonfirmasi sumbernya berasal dari kucuran bank Himbara senilai Rp200 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp90 triliun sudah dialokasikan lebih dulu. Dananya dipakai untuk membangun sarana-prasarana, termasuk pengadaan armada kendaraan operasional yang diimpor ini.
Lalu, kendaraan seperti apa yang dibeli? Jumlahnya tidak main-main: total 105 ribu unit. Rinciannya, 35.000 unit Scorpio Pik Up dipasok oleh Mahindra & Mahindra. Sementara 70 ribu unit lainnya datang dari Tata Motors, yang terbagi menjadi 35 ribu Yodha Pick-Up dan 35 ribu Ultra T.7 Light Truck.
Dari sisi angka, efisiensi yang diklaim Agrinas memang signifikan. Namun begitu, yang jelas upaya ini menunjukkan geliat baru dalam pengadaan barang pemerintah. Mereka berusaha keluar dari pola lama, meski hasilnya nanti masih harus dibuktikan di lapangan.
Artikel Terkait
Bupati Tulungagung Diperiksa Intensif KPK Usai OTT di Jawa Timur
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke USD100 Tak Perlebar Defisit APBN
Gapensi Desak Penyesuaian Harga Proyek Imbas Kenaikan Biaya Konstruksi
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN