Di dalam negeri, sinyal dari permintaan domestik mulai menunjukkan kelemahan. Belanja konsumen riil melambat menjadi 2,2 persen secara tahunan, turun dari 3,4 persen di periode sebelumnya. Sektor kesehatan, yang menjadi penopang lapangan kerja, berhasil meredam perlambatan yang lebih dalam, namun tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan yang kuat.
Analis dari Morgan Stanley melihat pola ini sebagai konfirmasi. Laporan PDB kuartal IV dinilai menegaskan perlambatan bertahap permintaan domestik, yang sebelumnya sempat tertutupi oleh fluktuasi pada persediaan dan impor.
Di tengah pelemahan ini, ada satu bidang yang justru bersinar: investasi teknologi. Lonjakan belanja untuk riset dan pengembangan, terutama yang terkait infrastruktur AI seperti pusat data, menjadi jangkar pertumbuhan utama. Gelombang belanja modal ini menunjukkan bagaimana transformasi digital terus menjadi penggerak aktivitas ekonomi meski dalam tekanan.
Tekanan Inflasi dan Prospek ke Depan
Tekanan lain datang dari sisi harga. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, tolok ukur favorit The Fed, naik 0,4 persen secara bulanan pada Desember lebih tinggi dari perkiraan. Secara tahunan, PCE inti berada di level 3,0 persen, melampaui target bank sentral dan menambah kompleksitas tugas pembuat kebijakan moneter.
Secara keseluruhan, performa ekonomi AS sepanjang 2025 tumbuh 2,2 persen, lebih rendah dibandingkan kenaikan 2,8 persen pada 2024. Kombinasi antara perlambatan pertumbuhan, gangguan fiskal, dan inflasi yang bandel menciptakan panorama ekonomi yang penuh tantangan memasuki tahun 2026, dengan harapan pemulihan pasca-shutdown dan momentum investasi teknologi menjadi faktor penentu.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Akui Desain Coretax yang Sulit Picu Maraknya Joki Pajak
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta