H-851, Tongkang Tanpa Mesin Terbesar di Dunia, Pertahankan Gelar hingga 2026

- Selasa, 07 April 2026 | 04:45 WIB
H-851, Tongkang Tanpa Mesin Terbesar di Dunia, Pertahankan Gelar hingga 2026

Kalau ditanya soal kapal terbesar di dunia, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan kapal tanker raksasa atau kapal pesiar mewah. Tapi jawabannya bisa mengejutkan. Rekor untuk tongkang terbesar justru dipegang oleh sebuah raksasa yang tak punya mesin sendiri. Ya, benar-benar tak punya mesin. Kapal bernama H-851 ini lebih mirip sebuah pulau baja yang harus ditarik kemana-mana oleh kapal tunda.

Hingga April 2026, gelar itu masih melekat padanya. Tongkang milik Heerema Marine Contractors ini adalah monster di kelasnya. Bayangkan saja, panjangnya mencapai 290,76 meter. Angka itu bahkan mengalahkan panjang Titanic yang legendaris itu, yang 'hanya' sekitar 269 meter. Lebarnya pun tak kalah mengesankan: lebih dari 63 meter.

Menurut catatan dari berbagai sumber, H-851 dirancang oleh Daewoo di Korea Selatan khusus untuk pekerjaan berat di lepas pantai. Tugas utamanya? Mengangkut struktur anjungan minyak yang bobotnya bisa mencapai angka gila-gilaan. Deadweight-nya lebih dari 110 ribu ton, dengan displacement mendekati 155 ribu ton. Yang paling mencengangkan, dia bisa meluncurkan jacket atau struktur kaki anjungan dengan berat hingga 40.000 ton. Itu setara dengan mengangkat beberapa gedung pencakar langit sekaligus.

Namun begitu, ukuran besar saja tidak cukup. Laut bisa sangat kejam. Untuk itu, H-851 dilengkapi teknologi canggih agar tetap stabil saat mengangkut beban ribuan ton di tengah ombak.

Salah satu fitur kuncinya adalah sistem ballast cepat. Sistem ini memungkinkan kapal naik-turun di air dengan presisi tinggi selama proses float-over yaitu saat modul atas anjungan dipasang ke kakinya di laut. Tanpa sistem ini, risiko tabrakan antara kapal dan struktur bisa sangat besar.

Kapal ini juga pernah dimodifikasi. Pada 2011, sekitar 100 meter bagian depannya dibuat lebih ramping. Tujuannya agar bisa menyelip di antara kaki-kaki anjungan tertentu, seperti dalam proyek North Rankin B di Australia. Deknya pun diperkuat dengan baja khusus, dirancang untuk menahan tekanan titik yang luar biasa dari beban yang diangkutnya.

Di sisi lain, dunia terus berkembang. Pada 2026, muncul pesaing baru seperti Braveheart milik Allseas. Tongkang ini disebut-sebut lebih modern, punya sistem ballast elektrik dan dek datar untuk robot. Tapi dari segi ukuran, Braveheart masih kalah. Panjangnya sekitar 200 meter, hampir 90 meter lebih pendek dari H-851.

Ada juga Beverley milik Acciona. Kapal ini diperkenalkan tahun yang sama dan dijuluki jack-up barge terbesar di Australia. Namun fungsinya berbeda. Beverley punya kaki sepanjang 78 meter yang bisa menancap di dasar laut, digunakan untuk membangun infrastruktur, bukan mengangkut struktur antar benua seperti H-851.

Meski ada pendatang baru, rekor H-851 sebagai tongkang kargo terbesar belum tergoyahkan. Tapi, industri tampaknya sudah bergeser. Membangun tongkang yang lebih panjang darinya sekarang dianggap kurang efisien. Keterbatasan pelabuhan, kanal, dan biaya operasional yang membengkak jadi pertimbangan utama. Fokusnya kini lebih ke kapasitas angkat dan presisi teknologi, bukan sekadar memperbesar ukuran lambung.

Jadi, meski namanya tak setenar kapal-kapal lain, H-851 tetap menjadi standar utama. Dia adalah pekerja senyap yang vital. Kapal ini masih setia mengantarkan struktur raksasa dari galangan kapal ke titik pengeboran di ujung dunia, menjadi tulang punggung yang tak tergantikan dalam industri energi global.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar