MURIANETWORK.COM - Ekonomi Amerika Serikat mencatat perlambatan signifikan pada kuartal terakhir 2025, dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil hanya 1,4 persen secara tahunan. Angka ini jauh melorot dari capaian 4,4 persen di kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terjadi dalam bayang-bayang penutupan sebagian pemerintah federal yang berkepanjangan dan melebarnya defisit perdagangan, meski diimbangi oleh gelombang investasi di sektor kecerdasan buatan.
Dampak Government Shutdown dan Defisit Perdagangan
Badan Analisis Ekonomi AS (BEA) dalam laporan estimasi awalnya mengonfirmasi bahwa terhentinya alokasi anggaran federal memberi dampak nyata. Penurunan layanan pemerintah diprakirakan memotong sekitar satu poin persentase dari pertumbuhan PDB kuartal IV. Meski dampak penuhnya sulit diisolasi secara spesifik dari data, gangguan ini jelas menjadi beban berat bagi aktivitas ekonomi.
Paul Ashworth, Kepala Ekonom untuk Amerika Utara di Capital Economics, memberikan penilaiannya. "Dampak shutdown terhadap ekonomi lebih besar dari perkiraan sebelumnya," ujarnya. Namun, Ashworth tetap melihat ada peluang pemulihan. Dia memperkirakan penurunan tersebut berpotensi berbalik pada kuartal I-2026 seiring normalisasi aktivitas pemerintah.
Di sisi eksternal, ekonomi AS juga terbebani oleh defisit perdagangan yang melebar pada Desember, sebagian dipicu oleh turunnya ekspor emas. Meski tarif luas era Trump masih berlaku, impor barang seperti peralatan digital justru meningkat di bulan tersebut, mencerminkan kompleksitas dinamika perdagangan global.
Artikel Terkait
Trump Akui Ketangguhan Iran Usai F-15E AS Dijatuhkan
Antonio Conte Buka Peluang Kembali Tangani Timnas Italia
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Disertai Kilat dan Angin Kencang di Jabodetabek Siang-Sore Ini
Menteri Keuangan Akui Desain Coretax yang Sulit Picu Maraknya Joki Pajak