Manohara Bongkar Pernikahan di Usia 15: Bukan Hubungan, Tapi Paksaan

- Rabu, 07 Januari 2026 | 09:25 WIB
Manohara Bongkar Pernikahan di Usia 15: Bukan Hubungan, Tapi Paksaan

JAKARTA Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Manohara Odelia Pinot. Figur publik itu membongkar fakta tentang pernikahannya dengan Pangeran Kelantan, Tengku Fakhry, yang terjadi pada 2008 lalu. Kali ini, sorotan utama adalah usianya saat itu.

Dengan blak-blakan, Manohara mengaku menikah di usia 15 tahun. Usia yang jelas-jelas di bawah umur. Inilah alasan mendasar kenapa dia menolak keras embel-embel 'mantan istri' melekat pada namanya.

"Apa yang terjadi selama masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah," tegasnya dalam unggahan Instagram, Rabu (7/1/2026).

Dia berargumen, sebuah pernikahan tanpa dasar kesepakatan bersama dan keinginan sendiri, bukanlah ikatan yang sah. Karena itu, dia berharap gelar 'mantan istri' itu hilang dari hidupnya untuk selamanya.

"Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela," tambahnya lagi.

Tak cuma soal status, Manohara juga membuka suara tentang hal lain yang lebih kelam. Di kesempatan yang sama, dia dengan tegas menyatakan dirinya adalah korban pelecehan seksual. Pengakuannya ini tentu saja mengguncang banyak pihak.

Logikanya sederhana tapi kuat. "Ketika seseorang menjadi korban pelecehan seksual, kami tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar pelaku," ujarnya. Menurut Manohara, kita tidak boleh membingkai kekerasan seksual layaknya sebuah hubungan asmara, apalagi mengubah narasi paksaan jadi cerita yang seolah-olah penuh persetujuan.

"Saya berusia 15 tahun, dan pria itu berusia 30-an. Tidak ada kencan, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan," sambungnya, memperjelas jurang kekuasaan dan usia dalam peristiwa itu.

Maka dari itu, menyebut seorang korban sebagai 'mantan pasangan' si pelaku bukanlah perkara kesopanan. Bukan pula cara untuk membuatnya lebih bisa diterima. Justru sebaliknya.

"Itu membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, itu mengalihkan fokus dari kerugian dan ke anak itu sendiri," katanya dengan nada prihatin.

Bahasa, bagi Manohara, adalah kunci. "Korban tidak membutuhkan gelar yang menyiratkan pilihan di mana tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa bahasa itu penting," tambahnya.

Dampaknya lebih luas dari yang kita bayangkan. Manohara memperingatkan, ketika pelecehan terus digambarkan sebagai suatu 'hubungan', masyarakat secara tak langsung diajari untuk menganggap paksaan sebagai persetujuan. Anak-anak pun dilihat sebagai peserta, bukan korban yang tak berdaya.

"Pola pikir ini menyebabkan kerugian yang nyata," tegasnya. Kerugian itu bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk banyak gadis lain yang menyaksikan bagaimana kasus seperti ini dibicarakan publik.

Di akhir pernyataannya, Manohara menegaskan posisinya. "Saya tidak meminta siapa pun untuk merasa kasihan ke saya. Saya minta keakuratan."

Dan keakuratan itu, baginya, berarti berhenti menampilkan situasi paksa yang melibatkan anak sebagai hubungan sukarela antar orang dewasa. Poin itulah yang ingin dia tekankan. Itu inti dari semua yang dia perjuangkan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar