Ibu-Ibu di Mandailing Natal Bakar Rumah Diduga Bandar Narkoba Usai Salat Tolak Bala

- Kamis, 18 Desember 2025 | 14:36 WIB
Ibu-Ibu di Mandailing Natal Bakar Rumah Diduga Bandar Narkoba Usai Salat Tolak Bala

Suasana di Desa Tabuyung, Mandailing Natal, mendadak panas Selasa petang lalu. Sekitar pukul enam, puluhan ibu-ibu bergerak. Bukan untuk arisan, melainkan melakukan sweeping. Sasaran mereka adalah rumah yang diduga milik bandar narkoba. Dua rumah akhirnya hangus dilalap api.

Kapolres setempat, AKBP Arie Sofandi Paloh, membenarkan kejadian itu. Menurutnya, aksi itu berawal usai para ibu melaksanakan salat istighotsah salat tolak bala karena daerah mereka terdampak bencana. Entah bagaimana ceritanya, usai berdoa, bukannya pulang, mereka malah beramai-ramai melempari dan membakar rumah.

“Iya, yang bakar ibu-ibu. Untuk diamankan saat ini kurang lebih 8 orang,” kata Paloh ketika dikonfirmasi Kamis (18/12).

Dia melanjutkan, pihak kepolisian sempat mendengar keributan dan berusaha mencegah aksi anarkis itu. Namun begitu, massa yang datang cukup banyak. Dari lima rumah yang didatangi, dua di antaranya tak terselamatkan.

“Namun, dengan jumlah masyarakat cukup banyak, ada 2 rumah yang berhasil mereka bakar. Itulah satunya dari 5 rumah yang mereka datangi,” sambung Paloh.

Dari sisi pelaku dugaan bandar, polisi telah menangkap delapan orang. Salah satunya bahkan pernah diciduk di awal tahun 2025. Rumah yang dibakar disebut-sebut milik anak dari pelaku yang sudah ditangkap sebelumnya.

“Menurut keterangan masyarakat, anaknya pun ikut mengedarkan atau ikut memakai,” jelas Paloh.

Tapi, apakah benar rumah-rumah itu sarang bandar? Polisi masih menyelidiki. “Masih kita lidik lah,” imbuhnya. Saat ini kondisi desa sudah dikatakan kondusif, dengan polisi tetap berjaga untuk mencegah kericuhan ulang.

Dilatari Kekhawatiran dan Aura Media Sosial

Lantas, apa yang mendorong para emak-emak nekat bakar rumah? Menurut Kapolres, alasan utamanya adalah kekhawatiran. Mereka takut anak-anak mereka terpengaruh dan jadi korban narkoba. Tapi, polisi juga masih mendalami apakah ada provokator di balik aksi spontan ini.

“Karena merasa kekhawatiran anaknya gitu, tapi sedang kita dalami (ada provokator atau tidak),” lanjutnya.

Ada faktor menarik lain: pengaruh media sosial. Paloh menyebut para ibu ini kerap melihat konten ‘sweeping’ atau aksi warga di platform seperti TikTok dan Facebook.

“Jadi ibu-ibu ini aura media sosialnya lebih tinggi. Jadi saya bilang, kita penegakkan hukum harus bekerja,” ucap Paloh.

Di sisi lain, polisi berencana menggelar pertemuan antara warga dan para terduga pelaku. Pemeriksaan urine juga akan dilakukan. Proses hukum akan berjalan jika ada bukti pengedaran. Tapi untuk saat ini, belum ada satu pun yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk para pembakar rumah.

Imbauan: Jangan Main Hakim Sendiri

Paloh menegaskan, masyarakat diminta tidak mengambil jalan pintas. Main hakim sendiri justru menciptakan masalah baru.

“Karena polisi saja melakukan penggeledahan atau sweeping tanpa ada surat perintah itu melanggar hak asasi manusia, apalagi orang sipil,” tegasnya.

Dia mengimbau agar warga bekerja sama dengan aparat, bukan bertindak di luar hukum. Apalagi, personel Polsek Muara Batang Gadis hanya sepuluh orang. Jumlah yang sangat terbatas untuk mengawasi satu wilayah.

“Karena dengan personel 10 orang, jadi seharusnya masyarakat memang kita sangat membutuhkan untuk ikut kerja sama, sama-sama menjaga lingkungannya,” pungkas Paloh.

Kini, suasana di Tabuyung perlahan tenang. Namun, persoalan yang memicu amuk warga yaitu ancaman narkoba masih menunggu penyelesaian yang lebih prosedural dan tuntas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar