Ramadan dan Idul Fitri selalu membawa pola yang sama: lonjakan permintaan bahan pokok, tekanan pada harga pangan, dan ancaman inflasi yang mengintai. Bukan hal baru, memang. Tapi, apakah kita harus terus menerima situasi ini sebagai rutinitas tahunan yang tak terelakkan?
Menurut para pelaku di lapangan, operasi pasar sesaat saja tak cukup. Perlu ada perubahan yang lebih mendasar. Yukki Nugrahawan Hanafi, dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALFI), punya pandangan jelas soal ini.
Namun begitu, ia menekankan bahwa stabilitas jangka panjang hanya akan terwujud jika sistem distribusi kita sudah efisien, terhubung dengan baik, dan didukung data yang transparan. Tanpa itu, kita hanya akan terus memadamkan kebakaran, bukan mencegahnya.
Dari kacamata ekonomi, harga yang stabil jelas menguntungkan semua pihak. Masyarakat bisa bernapas lega, dunia usaha punya kepastian. Tapi kenyataannya? Gangguan di arus perdagangan, pasokan yang tak merata antar daerah, kemacetan di pelabuhan, plus minimnya data yang terintegrasi semua itu jadi bahan bakar utama gejolak harga.
Yukki melihat, mengendalikan inflasi pangan sangat erat kaitannya dengan biaya logistik yang efisien dan tata kelola yang akuntabel. Di sinilah kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha memegang peran krusial.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Godok Koneksi MRT dan KRL Listrik untuk Revitalisasi Kota Tua
Wamendagri: Dai dan Ulama Diharapkan Jadi Penggerak Sosial di Wilayah Perbatasan
BPK Mulai Audit LKPD Bangka Belitung, Fokus pada Belanja Barang dan Proyek
Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Korupsi Petral, Diduga Picu Kenaikan Harga BBM