Abhijit Surya, Analis dari Capital Economics, memberikan penjelasan lebih rinci. "Ke depan, kami memperkirakan inflasi utama melemah lebih lanjut menjadi sedikit di atas satu persen pada Februari dan Maret, seiring dengan berlakunya subsidi energi yang besar," ungkapnya.
Surya menambahkan bahwa dengan meredanya tekanan harga, Bank Sentral Jepang (BOJ) tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Sejumlah pengamat lain juga meyakini bahwa ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga secara agresif kini semakin terbatas. Kenaikan suku bunga lanjutan, jika ada, kemungkinan baru akan terjadi pada pertengahan 2026.
Konteks Politik dan Prioritas Pemerintah
Isu inflasi dan biaya hidup sebelumnya telah menjadi tantangan politik yang serius di Jepang. Lonjakan harga yang terjadi beberapa waktu lalu berkontribusi pada ketidakstabilan politik, yang berujung pada pergantian kepemimpinan. Situasi ini menjadikan pengendalian inflasi sebagai agenda krusial bagi pemerintahan yang berkuasa.
Sejak menjabat, Perdana Menteri Sanae Takaichi secara konsisten menempatkan bantuan ekonomi kepada rumah tangga sebagai prioritas utama. Kebijakan subsidi energi yang kini menunjukkan dampaknya merupakan bagian dari komitmen tersebut, dalam upaya menstabilkan kondisi perekonomian domestik dan meredam gejolak harga.
Artikel Terkait
Trump Akui Ketangguhan Iran Usai F-15E AS Dijatuhkan
Antonio Conte Buka Peluang Kembali Tangani Timnas Italia
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Disertai Kilat dan Angin Kencang di Jabodetabek Siang-Sore Ini
Menteri Keuangan Akui Desain Coretax yang Sulit Picu Maraknya Joki Pajak