MURIANETWORK.COM - Inflasi Jepang menunjukkan perlambatan yang signifikan pada Januari 2026, memberikan angin segar bagi perekonomian dan rumah tangga di negara tersebut. Data terbaru mengungkapkan bahwa tekanan harga, yang sempat menjadi beban berat, mulai mereda berkat intervensi kebijakan pemerintah, terutama di sektor energi.
Inflasi Inti Capai Level Terendah Dua Tahun
Indikator kunci yang diamati para ekonom, inflasi inti (tidak termasuk harga makanan segar), tercatat sebesar 2,0 persen pada basis tahunan di bulan Januari. Angka ini tidak hanya turun dari posisi 2,4 persen di Desember 2025, tetapi juga menjadi level terendah yang tercatat dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, inflasi utama yang tidak disesuaikan juga mengalami penurunan tajam, dari 2,1 persen menjadi 1,5 persen.
Perlambatan ini didorong oleh penurunan harga komoditas energi yang cukup curam. Harga bensin, misalnya, tercatat anjlok 14,6 persen. Langkah pemerintah memberikan subsidi energi dinilai sebagai faktor utama di balik tren penurunan ini, yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Proyeksi dan Implikasi Kebijakan Bank Sentral
Analis pasar memproyeksikan tren penurunan inflasi ini akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan berlanjutnya program subsidi pemerintah. Pandangan ini turut mempengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan Bank Sentral Jepang (BOJ) dalam mengatur suku bunga acuan.
Abhijit Surya, Analis dari Capital Economics, memberikan penjelasan lebih rinci. "Ke depan, kami memperkirakan inflasi utama melemah lebih lanjut menjadi sedikit di atas satu persen pada Februari dan Maret, seiring dengan berlakunya subsidi energi yang besar," ungkapnya.
Surya menambahkan bahwa dengan meredanya tekanan harga, Bank Sentral Jepang (BOJ) tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Sejumlah pengamat lain juga meyakini bahwa ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga secara agresif kini semakin terbatas. Kenaikan suku bunga lanjutan, jika ada, kemungkinan baru akan terjadi pada pertengahan 2026.
Konteks Politik dan Prioritas Pemerintah
Isu inflasi dan biaya hidup sebelumnya telah menjadi tantangan politik yang serius di Jepang. Lonjakan harga yang terjadi beberapa waktu lalu berkontribusi pada ketidakstabilan politik, yang berujung pada pergantian kepemimpinan. Situasi ini menjadikan pengendalian inflasi sebagai agenda krusial bagi pemerintahan yang berkuasa.
Sejak menjabat, Perdana Menteri Sanae Takaichi secara konsisten menempatkan bantuan ekonomi kepada rumah tangga sebagai prioritas utama. Kebijakan subsidi energi yang kini menunjukkan dampaknya merupakan bagian dari komitmen tersebut, dalam upaya menstabilkan kondisi perekonomian domestik dan meredam gejolak harga.
Artikel Terkait
Manajer Persija Akui Persaingan Ketat di Puncak Klasemen Super League
Cak Imin Lantik Jajaran Baru Direksi dan Dewas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan
Pengiriman Perdana Pipa Dimulai, Proyek Gas Dusem Rp6,5 Triliun Masuki Fase Konstruksi Intensif
Indonesia Ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Penjaga Perdamaian Internasional di Gaza