Jakarta Harga minyak dunia yang melonjak memang mendorong komoditas batu bara ikut naik. Ini tentu membuka peluang bagi kinerja emiten tambang. Tapi jangan terlalu cepat berharap, karena tekanan biaya dan situasi kebijakan yang belum pasti membuat potensi keuntungannya tak semulus yang dibayangkan.
Pada 6 April 2026, harga minyak mentah WTI sudah menembus level psikologis US$100, bahkan bertengger di angka US$111,66. Imbasnya, harga batu bara Newcastle untuk kontrak tahun yang sama pun ikut terdongkrak, menembus US$140 per ton. Situasi pasar energi global memang sedang panas.
Di tengah kondisi itu, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Arsal Ismail, melihat ada angin segar. Menurutnya, pergerakan harga batu bara sudah menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.
Ujarnya pada Senin (6/4/2026). Persetujuan RKAB tanpa pemotongan volume itu jelas jadi kabar baik. Arsal mencatat, indeks batu bara Indonesia (ICI) 1 sudah mendekati US$140, sementara ICI 3 ada di kisaran US$73. Angka-angka itu memberi ruang untuk perbaikan harga jual.
Target produksi hampir 50 juta ton itu bukan main-main. Itu adalah upaya perusahaan untuk menangkap momentum harga yang sedang bagus, sekaligus mempertahankan volume sebagai penopang pendapatan. Tren kenaikan ini jadi salah satu pilar optimisme mereka untuk kinerja 2026.
Artikel Terkait
Remaja 15 Tahun Tewas Ditikam Tetangga Usai Ribut Main Game di Makassar
Golkar Minta Kader Pemuda Awasi Harga Minyak Tanah dan Sosialisasikan Program Prabowo
Trump Ancam Hancurkan Sipil Iran dalam 4 Jam Jelang Tenggat Selat Hormuz
Petugas PPSU di Jakarta Timur Diberi Sanksi Gara-gara Pakai Foto AI untuk Tanggapi Aduan Warga