Harga Batu Bara Ikut Minyak, PTBA Targetkan Produksi 50 Juta Ton di Tengah Tekanan Biaya

- Selasa, 07 April 2026 | 07:45 WIB
Harga Batu Bara Ikut Minyak, PTBA Targetkan Produksi 50 Juta Ton di Tengah Tekanan Biaya

Jakarta Harga minyak dunia yang melonjak memang mendorong komoditas batu bara ikut naik. Ini tentu membuka peluang bagi kinerja emiten tambang. Tapi jangan terlalu cepat berharap, karena tekanan biaya dan situasi kebijakan yang belum pasti membuat potensi keuntungannya tak semulus yang dibayangkan.

Pada 6 April 2026, harga minyak mentah WTI sudah menembus level psikologis US$100, bahkan bertengger di angka US$111,66. Imbasnya, harga batu bara Newcastle untuk kontrak tahun yang sama pun ikut terdongkrak, menembus US$140 per ton. Situasi pasar energi global memang sedang panas.

Di tengah kondisi itu, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Arsal Ismail, melihat ada angin segar. Menurutnya, pergerakan harga batu bara sudah menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.

"Per tanggal 6 Maret kemarin, RKAB perseroan telah disetujui tanpa adanya pengurangan volume yang kami usulkan. Kami menargetkan volume produksi dan penjualan ini sekitar hampir 50 juta ton,"

Ujarnya pada Senin (6/4/2026). Persetujuan RKAB tanpa pemotongan volume itu jelas jadi kabar baik. Arsal mencatat, indeks batu bara Indonesia (ICI) 1 sudah mendekati US$140, sementara ICI 3 ada di kisaran US$73. Angka-angka itu memberi ruang untuk perbaikan harga jual.

Target produksi hampir 50 juta ton itu bukan main-main. Itu adalah upaya perusahaan untuk menangkap momentum harga yang sedang bagus, sekaligus mempertahankan volume sebagai penopang pendapatan. Tren kenaikan ini jadi salah satu pilar optimisme mereka untuk kinerja 2026.

Namun begitu, ceritanya tidak sepenuhnya mulus. Arsal dengan jujur mengakui bahwa lonjakan harga energi global ini ibarat pedang bermata dua.

Di satu sisi mendongkrak pendapatan, di sisi lain membebani biaya. Kenaikan harga minyak otomatis mendorong naiknya biaya bahan bakar, komponen utama dalam operasional tambang. Belum lagi, implementasi program biodiesel B40 yang akan ditingkatkan ke B50 diperkirakan bakal menambah beban sekitar US$2 per ton.

Dengan sederet tekanan itu, ruang untuk memperlebar margin jadi terbatas. Artinya, nasib emiten batu bara tak lagi hanya bergantung pada harga jual yang tinggi, tapi lebih pada kemampuan mereka mengendalikan pengeluaran.

"Untuk mengatasi itu semua, di samping tadi ada kenaikan harga, maka dari operasional dan dari keuangan tetap harus melakukan efisiensi, ini menjadi kunci,"

tegas Arsal.

Maka, strategi PTBA di tahun 2026 akan berfokus pada hal-hal yang lebih teknis dan kurang seksi: efisiensi ketat, disiplin mengelola biaya, dan penambangan yang lebih selektif. Itulah resep mereka untuk tetap bertahan dan bersaing di tengah euforia harga yang diselingi ketidakpastian.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar