Machmud mengungkapkan optimisme sekaligus kehati-hatian dalam proses tersebut. “Kita akan mencoba masuk lagi, ternyata ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Mudah-mudahan syarat-syarat ini segera bisa selesai sehingga kita bisa melakukan ekspor patin lagi ke Arab Saudi sana,” sebutnya.
Potensi Pasar yang Besar
Dari sisi volume, permintaan yang perlu dipenuhi terbilang signifikan. Machmud memperkirakan, untuk melayani sekitar 200.000 jemaah haji Indonesia, dibutuhkan pasokan ikan patin sekitar 600 hingga 700 ton per musim haji. Angka ini bahkan belum termasuk potensi pasar umrah yang dinilai jauh lebih besar, mengingat jumlah jemaah umrah yang berangkat sepanjang tahun dan rotasi menu dari penyedia katering setempat.
“Kalau untuk hajian itu kurang lebih, kalau kemarin ya sekitar 200.000 jemaah itu kita diminta sekitar 600 sampai 700 ton ya itu. Tapi kalau misalkan untuk umrah itu akan lebih besar lagi. Jadi tergantung dari menunya karena menu itu kan bergiliran tidak hanya ikan terus,” kata Machmud menjelaskan skala peluang yang ada.
Upaya ini bukan sekadar urusan ekspor komoditas, tetapi juga bagian dari komitmen untuk menjaga ketersediaan pangan yang familiar dan bernutrisi bagi warga negara Indonesia yang sedang menjalankan ibadah di negeri orang. Keberhasilannya akan membawa dampak ganda: mendukung ketahanan pangan jemaah dan menggerakkan roda ekonomi sektor perikanan dalam negeri.
Artikel Terkait
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta
Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 dan Besaran Bantuannya