Bara di Timur Tengah: Seberapa Dekat Kita dengan Jurang Perang Dunia?
Suasana di kawasan Timur Tengah kembali tegang. Pemicunya? Serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran di Iran. Aksi militer ini bukan cuma menambah panjang daftar konflik di wilayah itu, tapi juga memantik pertanyaan besar yang menggelisahkan banyak pihak: akankah ini jadi awal dari Perang Dunia Ketiga?
Menurut pengamatan Teuku Rezasyah, seorang pakar hubungan internasional, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kemungkinan itu, katanya, benar-benar ada. "Secara teori, PD III bisa terwujud dengan tiba-tiba," ujarnya.
Rezasyah menjelaskan argumennya kepada wartawan Rabu lalu. Salah satu faktor kuncinya adalah siapa yang terlibat.
"Aktor utama sudah jelas, yakni Amerika Serikat dan Israel, yang menyerang Iran tanpa menghormati hukum internasional," tegasnya.
Ia melanjutkan, aktor pendampingnya adalah sekumpulan negara di Timur Tengah yang punya perjanjian keamanan dengan AS atau Israel. Lalu, ada lagi aktor susulan: negara-negara di luar kawasan yang punya komitmen untuk saling mendukung AS jika ada ancaman yang bisa mereka tafsirkan sebagai ancaman bersama juga.
"Ke dalam aktor susulan ini adalah mereka yang terhimpun dalam NATO, AUKUS, ANZUS. Tidak terkecuali tetangga-tetangga RI di ASEAN yang memiliki basis AS di sana," papar Rezasyah.
Di sisi lain, situasi di lapangan semakin rumit. Ladang-ladang minyak terbakar di berbagai titik, sementara Iran disebut semakin memperkuat cengkeramannya atas Selat Hormuz. Itu adalah jalur vital untuk pasokan energi global. Potensi konflik, menurutnya, membesar dari hari ke hari.
Namun begitu, ada satu skenario yang dinilainya sebagai pemantik terbesar. "PD III ini dapat semakin cepat terwujud, seandainya terjadi ledakan tidak sengaja di salah satu instalasi rahasia," ungkap Rezasyah.
"Itu bisa memicu serangan balik secara total," tambahnya.
Operasi skala besar AS dan Israel itu sendiri dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari. Sasaran mereka beragam: fasilitas komando Garda Revolusi Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, lapangan terbang militer, hingga sistem pertahanan udara.
Dampaknya pun langsung terasa. Serangan itu disebut menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk pemimpin tertingginya, Ali Khamenei.
Gema ledakan tak hanya terdengar di Iran. Menurut sejumlah laporan, rentetan ledakan juga mengguncang beberapa negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS pada hari yang sama. Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Kuwait semuanya melaporkan insiden itu, menandakan betapa luasnya gelombang kejutan dari serangan ini.
Kini, semua mata tertuju ke wilayah itu. Menunggu langkah berikutnya, sambil berharap skenario terburuk itu tidak benar-benar terjadi.
Artikel Terkait
Komisaris Meryana Hartono Mundur dari Indonesian Paradise Property
Polisi Sita Lebih dari 23 Ton Bawang dan Cabai Impor Ilegal di Pontianak
KPK Soroti Delapan Kelemahan Krusial dalam Program Makan Bergizi Gratis
Operasi Besar-besaran DKI Tangkap Lebih dari 1 Ton Ikan Sapu-Sapu