"Kami tidak berani klaim sebagai yang return-nya paling tinggi. Bukan. Tapi yang kami klaim adalah kestabilan dan pertumbuhannya yang terjaga," tegas Dimas.
Di sisi lain, Direktur MNC Asset Management lainnya, Ipan Samuel Hutabarat, menyoroti faktor eksternal. Imbal hasil obligasi, jelasnya, memang dipengaruhi kondisi makro ekonomi dan gerak suku bunga acuan.
Namun begitu, dia berpendapat Reksa Dana Pendapatan Tetap tetap layak jadi pilihan. Terutama bagi yang ingin investasi dengan risiko minimal, selain tentu saja emas.
"Situasi penuh ketidakpastian seperti sekarang ini memang risiko-nya tinggi. Tapi justru di situlah peluangnya, Bapak-Ibu," kata Ipan mencoba meyakinkan.
Dia melanjutkan, "Jangan terus-terusan mikir 'wah, risikonya besar'. Kalau kita bisa jaga, bisa kontrol, dan lihat sisi positifnya, kita akan tahu kapan saat yang tepat untuk masuk berinvestasi."
Acara literasi itu pun berakhir dengan sesi tanya jawab yang cukup hangat. Tampak, antusiasme nasabah untuk memahami instrumen syariah mulai tumbuh.
Artikel Terkait
Menteri Perindustrian: Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Industri Halal Dunia
Menteri Keuangan Usung Rencana Ambil Alih PNM untuk Hemat Subsidi KUR Rp40 Triliun per Tahun
Pengemudi Taksi Online Positif Sabu Jadi Tersangka Pelecehan Seksual Penumpang
Menkeu: Makan Bergizi Gratis Rp335 T Berpotensi Setor Pajak Hingga Rp16,75 T