Indonesia punya peluang emas untuk jadi pusat industri halal dunia. Itulah keyakinan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Optimisme ini bukan tanpa dasar. Pasar dalam negeri kita sangat besar, sementara tren halal sendiri kian mendunia dan sudah jadi bagian gaya hidup.
Di sisi lain, capaian ekspor produk halal nasional yang terus tumbuh jadi bukti nyata. Menurut Agus, angka-angka itu menunjukkan betapa potensialnya industri dalam negeri kita untuk go international. Bahkan, posisi Indonesia dalam rantai pasok halal global bisa makin kuat.
“Sudah saatnya Indonesia menjadi pusat industri halal dunia, bukan hanya sebagai pasar bagi produk luar negeri,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
“Kinerja ekspor produk halal, termasuk sektor modest fashion, menunjukkan potensi yang sangat besar, dengan capaian mencapai USD8,28 miliar pada tahun 2024,” tambahnya.
Nah, untuk mewujudkan ambisi itu, pemerintah tak tinggal diam. Implementasi program pengembangan industri halal terus digeber, merujuk Peta Jalan Tahap II 2025–2029. Fokusnya jelas: menguatkan daya saing industri makanan-minuman, plus sektor tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki yang masuk kategori barang gunaan.
Upaya lain yang dilakukan adalah lewat edukasi. Baru-baru ini, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Tekstil (BBSPJI) menggelar forum TEXTalk. Acara yang dihadiri lebih dari 180 peserta dari berbagai kalangan industri ini jadi sarana sosialisasi pentingnya sertifikasi halal untuk barang gunaan, khususnya di bidang tekstil.
Soal sertifikasi ini, memang sudah jadi kewajiban. Ini amanat UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan aturan turunannya. Cakupannya luas banget: mulai dari sandang, aksesoris, peralatan rumah tangga, alat kesehatan, sampai bahan baku penyusunnya terutama yang mengandung unsur hewani.
Artikel Terkait
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan