Iran Sebut Ancaman Trump Hancurkan Infrastruktur sebagai Omong Kosong yang Arogan

- Selasa, 07 April 2026 | 10:00 WIB
Iran Sebut Ancaman Trump Hancurkan Infrastruktur sebagai Omong Kosong yang Arogan

Ancaman terbaru Donald Trump terhadap Iran kembali memicu reaksi keras dari Teheran. Kali ini, juru bicara militer Iran dari Markas Besar Khatam al-Anbiya angkat bicara. Menurutnya, ancaman Presiden AS itu untuk menghancurkan infrastruktur penting seperti jembatan dan pembangkit listrik tak lebih dari omong kosong yang arogan.

“Retorika kasar dan ancaman tanpa dasar dari presiden AS yang delusional itu,” ujar sang juru bicara,

“tidak akan pernah bisa menutupi aib dan penghinaan yang dialami Amerika di kawasan Asia Barat.”

Pernyataan itu disiarkan langsung oleh media pemerintah Iran, Selasa lalu. Jubir itu menegaskan, ancaman semacam itu hanyalah bentuk kegagalan. Ia menilai Washington sedang berusaha mengalihkan perhatian dari kekalahan strategisnya di lapangan.

Ultimatum yang Berganti-ganti

Semuanya berawal dari unggahan Trump di Truth Social. Pada Sabtu, 4 April, ia memberi ultimatum 48 jam kepada Iran. Isinya: buka Selat Hormuz atau hadapi “neraka”.

“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulisnya.

“Waktu hampir habis 48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka. Segala kemuliaan bagi TUHAN!”

Sebenarnya, ini bukan ancaman pertama. Sejak 21 Maret lalu, Trump sudah mengancam akan meluluhlantakkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar. Syaratnya sama: buka selat itu tanpa syarat dalam 48 jam.

Namun begitu, situasinya jadi tak menentu. Dua hari setelah ancaman pertama, Trump tiba-tiba menyebut ada “percakapan yang sangat baik dan produktif” dengan otoritas Iran. Serangan pun ditunda lima hari.

Penundaan itu berlanjut. Tenggat waktu akhirnya bergeser hingga Senin malam, pukul 20.00 waktu setempat. Sampai berita ini diturunkan, ketegangan masih menggantung. Apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada yang benar-benar tahu. Pola ancaman dan penundaan Trump justru membuat banyak pengamat kebingungan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar