Analis Peringatkan Dampak Ekonomi Jangka Panjang dari Eskalasi AS-Israel-Iran

- Selasa, 07 April 2026 | 10:00 WIB
Analis Peringatkan Dampak Ekonomi Jangka Panjang dari Eskalasi AS-Israel-Iran

Dalam dua hingga tiga pekan mendatang, banyak yang meramalkan ketegangan antara AS-Israel dan Iran bakal memuncak. Analis pun mulai bersuara, termasuk soal dampak ekonominya yang bisa menjalar ke mana-mana.

Halim Alamsyah, ekonom senior, punya kekhawatiran sendiri. Menurutnya, Iran kemungkinan akan membalas serangan terhadap kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah. Kalau sudah begitu, efeknya bakal terasa jauh melampaui wilayah konflik.

“Industri manufaktur di kawasan itu pasti terdampak,” ujarnya.

Ia tak hanya menyoroti migas. Dampaknya, kata Halim, bisa merembet ke sektor lain seperti pupuk, petrokimia, helium, hingga smelter-smelter besar untuk nikel, aluminium, dan bijih besi. Semua itu, katanya, mengandalkan sumber energi murah dari wilayah tersebut.

“Jadi, ini dampaknya nanti tidak saja kepada minyak, tapi juga kepada harga bahan pangan dan juga bahan baku industri manufaktur,” jelas Halim dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Bagi Indonesia, ancamannya ganda. Kenaikan harga energi global jelas akan terasa. Namun, Halim mengingatkan, bahan-bahan untuk produksi pangan juga berpotensi ikut naik. Ini jadi masalah serius, mengingat basis industri manufaktur dalam negeri yang dinilainya telah menurun selama dua dekade terakhir.

“Jadi ini yang kita perlu awasi,” tegasnya. “Dampak dari perang Iran ini, walau nantinya berhenti, menurut hemat saya akan berjangka panjang. Tidak akan selesai cuma dalam satu dua bulan.”

Pemulihan pascakonflik, menurut Halim, selalu butuh waktu yang tidak sebentar. Ia memberi contoh, Kementerian Energi Qatar saja pernah menyebut perlu waktu 2-3 tahun untuk memperbaiki infrastruktur minyak dan gas yang rusak. Padahal, fasilitas besar seperti Ras Tanura salah satu penghasil minyak terpenting hanya terkena satu dua misil saja.

Belum lagi infrastruktur di Iran sendiri yang memegang peran krusial dalam rantai pasok global. Artinya, selain kerusakan fisik dan korban jiwa yang memilukan, dampak politik internasionalnya akan kompleks. Iran akan sibuk membenahi negerinya sendiri.

“Tapi, bagi kita dan masyarakat dunia efeknya nanti kepada ekonomi kita, terutama dari sisi harga-harga dan ketersediaan supply beberapa barang-barang yang kita juga pakai, itu mungkin dampaknya tidak akan 1-2 bulan, ini akan lama,” kata Halim.

Di sisi lain, situasi di lapangan semakin panas. Kabar terbaru menyebut AS mengerahkan puluhan ribu pasukan darat ke Timur Tengah. Spekulasi pun beredar: AS berencana melumpuhkan titik-titik vital Iran sebelum mundur, agar Tehran tak bisa mengancam dalam satu dekade ke depan.

Halim berharap kabar itu tidak benar. Rencana semacam itu, menurutnya, hanya akan memicu dampak yang masif dan sulit dikendalikan. Iran jelas tidak akan tinggal diam.

“Kalau terjadi dampak ini akan masif nih, masif dalam pengertian tidak mungkin Iran diam saja dihantam bertubi-tubi,” paparnya.

Ia menambahkan, serangan Israel saat ini pun sudah semakin tak memilih sasaran. “Sekarang sudah setiap hari dihantam, terutama berbagai sasaran yang dipilih sudah tidak peduli lagi apakah itu ada unsur militernya atau unsur masyarakat sipilnya. Dia hantam saja dengan asumsi di situ ada sasaran yang ingin dicapai.”

Suasana mencekam, dan dunia hanya bisa menunggu sambil bersiap menghadapi gelombang guncangan yang mungkin datang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar