Dalam dua hingga tiga pekan mendatang, banyak yang meramalkan ketegangan antara AS-Israel dan Iran bakal memuncak. Analis pun mulai bersuara, termasuk soal dampak ekonominya yang bisa menjalar ke mana-mana.
Halim Alamsyah, ekonom senior, punya kekhawatiran sendiri. Menurutnya, Iran kemungkinan akan membalas serangan terhadap kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah. Kalau sudah begitu, efeknya bakal terasa jauh melampaui wilayah konflik.
“Industri manufaktur di kawasan itu pasti terdampak,” ujarnya.
Ia tak hanya menyoroti migas. Dampaknya, kata Halim, bisa merembet ke sektor lain seperti pupuk, petrokimia, helium, hingga smelter-smelter besar untuk nikel, aluminium, dan bijih besi. Semua itu, katanya, mengandalkan sumber energi murah dari wilayah tersebut.
“Jadi, ini dampaknya nanti tidak saja kepada minyak, tapi juga kepada harga bahan pangan dan juga bahan baku industri manufaktur,” jelas Halim dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Bagi Indonesia, ancamannya ganda. Kenaikan harga energi global jelas akan terasa. Namun, Halim mengingatkan, bahan-bahan untuk produksi pangan juga berpotensi ikut naik. Ini jadi masalah serius, mengingat basis industri manufaktur dalam negeri yang dinilainya telah menurun selama dua dekade terakhir.
“Jadi ini yang kita perlu awasi,” tegasnya. “Dampak dari perang Iran ini, walau nantinya berhenti, menurut hemat saya akan berjangka panjang. Tidak akan selesai cuma dalam satu dua bulan.”
Pemulihan pascakonflik, menurut Halim, selalu butuh waktu yang tidak sebentar. Ia memberi contoh, Kementerian Energi Qatar saja pernah menyebut perlu waktu 2-3 tahun untuk memperbaiki infrastruktur minyak dan gas yang rusak. Padahal, fasilitas besar seperti Ras Tanura salah satu penghasil minyak terpenting hanya terkena satu dua misil saja.
Artikel Terkait
Pelatih PSM Akui Laga Kontra PSIM di Yogyakarta Akan Berat dan Sulit
Hidayat Nur Wahid Apresiasi Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS-Iran
Gibran Desak Persidangan Kasus Penyegraman Andrie Yunus Berjalan Jujur dan Terbuka
KPK Periksa 10 Saksi Kasus Suap Bupati Rejang Lebong di Kantor BPKP Bengkulu