Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Jatuh pada 25-26 Mei, Ini Keutamaan dan Jadwal Lengkapnya

- Senin, 25 Mei 2026 | 06:15 WIB
Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Jatuh pada 25-26 Mei, Ini Keutamaan dan Jadwal Lengkapnya

Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia kembali diingatkan pada dua momentum ibadah sunah yang sarat keutamaan, yakni puasa Tarwiyah dan Arafah. Kedua puasa yang jatuh pada bulan Dzulhijjah ini dinanti-nanti karena diyakini sebagai kesempatan emas untuk meraih pahala berlipat ganda. Setiap amal kebaikan yang ditunaikan pada hari-hari tersebut disebut akan mendapat ganjaran istimewa dari Allah SWT.

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sementara puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Keduanya dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Bagi para jemaah haji yang sedang berada di Arafah, berpuasa pada hari Arafah justru dihukumi haram. Tahun ini, berdasarkan perhitungan kalender, puasa Tarwiyah bertepatan dengan Senin, 25 Mei 2026, dan puasa Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026.

Penamaan Tarwiyah sendiri berasal dari kata tarawwa yang berarti membawa bekal air. Secara historis, pada tanggal tersebut para jemaah haji mulai membawa persediaan air zam-zam dalam perjalanan menuju Mina dan Arafah. Sementara itu, istilah Arafah merujuk pada lokasi wukuf yang menjadi puncak ibadah haji di Padang Arafah.

Hanif Luthfi Lc., dalam bukunya berjudul Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah yang diterbitkan oleh Rumah Fiqih Publishing, menjelaskan bahwa puasa Tarwiyah dan Arafah termasuk dalam amalan sunah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di kedua hari tersebut.

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun,” demikian bunyi hadis yang diriwayatkan dari jalur Ali al-Muhairi, dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dan dari Ibnu Abbas secara marfu’. Dalam kitab an-Najm al-Wahhaj, disebutkan bahwa disunahkan berpuasa pada hari Tarwiyah dan Arafah sebagai bentuk kehati-hatian.

Bagi yang tidak mampu berpuasa selama sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, tetap dianjurkan untuk menjalankan puasa pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, atau yang dikenal sebagai puasa Tarwiyah dan Arafah. Keutamaan dari kedua puasa ini pun beragam, mulai dari penghapusan dosa hingga pahala yang setara dengan ibadah bertahun-tahun.

Salah satu keutamaan yang paling dikenal adalah kemampuannya menghapus dosa. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dan Abdullah bin Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa Arafah akan mengampuni dosa dua tahun.” (HR Tirmidzi). Riwayat lain dari Abu Qatadah Radhiyallahuanhu juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.” (HR Muslim).

Di samping itu, pahala puasa Tarwiyah disebut setara dengan puasa setahun, sementara puasa Arafah setara dengan puasa dua tahun. Keutamaan ini kembali merujuk pada hadis yang diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Abbas. Tidak hanya itu, nilai ibadah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dinilai lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Imam As-Syarwani menyatakan bahwa bulan paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah Al-Asyhur al-Hurum, dengan urutan Muharam, Rajab, Dzulhijjah, dan Dzulqa’dah.

Keistimewaan lain dari hari Arafah adalah sebagai hari pembebasan dari api neraka. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Siti Aisyah Radhiyallahu anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” (HR Muslim).

Bahkan, amalan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut lebih utama daripada jihad. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini yakni sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.” Para sahabat pun bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.”

Terakhir, menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah juga merupakan bentuk mengikuti sunah Nabi SAW. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berpuasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah, berpuasa di hari Asyura, tiga hari setiap bulannya, serta puasa Senin dan Kamis. Wallahu A’lam.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar