Dia mengungkapkan bahwa pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sulit. "Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan (ekonomi) signifikan. Pilihannya yang mana? ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya," jelasnya.
Dengan demikian, pemerintah meyakini bahwa stimulus melalui pembiayaan utang lebih baik dibandingkan membiarkan ekonomi kontraksi tanpa intervensi, yang pada akhirnya dapat menggerus kesejahteraan masyarakat secara luas.
Komposisi dan Rencana Ke Depan
Dari total utang yang mencapai Rp9.637,90 triliun, struktur pembiayaannya didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Komposisinya menunjukkan SBN sebesar Rp8.387,23 triliun atau 87,02 persen, sementara pinjaman langsung menyumbang Rp1.250,67 triliun atau 12,98 persen.
Ke depan, pemerintah menyatakan komitmennya untuk melakukan penataan ulang struktur fiskal seiring dengan perbaikan dan pemulihan momentum pertumbuhan ekonomi. Rencana ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan keuangan negara pasca periode respons krisis.
Artikel Terkait
Gempa Megathrust 7,6 SR Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Beberapa Wilayah
Pemilik SPBE Cimuning Bakal Dipanggil Usai Kebakaran Diduga Akibat Kebocoran
Prabowo Tunjukkan Finger Heart dengan Idola K-Pop di Tengah Perkuat Kemitraan Strategis dengan Korsel
Microsoft Investasikan Rp94 Triliun untuk Cloud dan AI di Singapura