tambahnya.
Ia pun memberikan gambaran sederhana. Secara umum, peringkat sebuah perusahaan hampir mustahil melampaui peringkat negara tempatnya beroperasi. Jadi, ketika sovereign rating anjlok, corporate rating pun akan menyesuaikan ke bawah. Konsekuensinya, investor pasti akan meminta imbal hasil atau bunga yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang dirasa meningkat.
"Kalau negara dulunya kira-kira Baa2 menjadi Ba2 atau dulunya BBB menjadi BB misalnya, maka ya pasti corporate rating juga sama. Nah terus dampaknya apa? Ya lagi kalau kita nerbitin surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal,"
tutur Nixon.
Meski mengubah outlook ke negatif, Moody's sebenarnya masih mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2. Keputusan ini, di satu sisi, tetap mengakui ketahanan ekonomi nasional yang dinilai solid, didorong oleh bonus demografi dan kekayaan alam.
Namun begitu, revisi ke arah negatif itu tak datang tanpa alasan. Moody's menyoroti kekhawatiran mendalam mereka terhadap risiko penurunan kepastian kebijakan. Kekhawatiran ini dinilai bisa mengganggu prediktabilitas kinerja ekonomi Indonesia ke depan, jika tidak segera ditangani.
Jadi, situasinya seperti dua sisi mata uang. Di balik prospek yang dianggap kurang cerah, masih ada pengakuan atas fondasi yang kuat. Tinggal bagaimana langkah antisipasi dan komunikasi, seperti yang akan dilakukan BTN, bisa memitigasi dampaknya.
Artikel Terkait
Gibran Dorong Hilirisasi Peternakan Sapi di Boyolali dan Waspadai PMK
Menkeu Setuju Penghematan Anggaran Makan Bergizi Gratis dengan Syarat Kualitas Tak Turun
Prabowo Sambut PM Anwar Ibrahim dengan Lagu Rasa Sayange di Istana Merdeka
Kunjungan Wisatawan ke Bali Naik 3,7% Selama Liburan Lebaran 2026