Negara-negara Asia Antre Minyak Rusia di Tengah Ketegangan Timur Tengah

- Jumat, 27 Maret 2026 | 01:35 WIB
Negara-negara Asia Antre Minyak Rusia di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Negara-negara di Asia mulai mengantre untuk mendapatkan minyak Rusia. Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia, hingga Sri Lanka disebut-sebut masuk dalam daftar itu. Situasi ini muncul di tengah ketegangan di Timur Tengah yang mengacaukan pasokan energi global.

Menurut laporan Reuters, beberapa sumber termasuk dari pihak Rusia mengaku khawatir permintaan bakal melampaui pasokan yang ada. Pemicunya? Terhambatnya aliran minyak akibat perang antara AS-Israel dan Iran. Sekitar seperlima produksi minyak dunia macet, terutama karena lalu lintas di Selat Hormuz terhenti.

Dulu, saat perang Ukraina pecah, banyak pelanggan Eropa menjauhi Moskow. Tapi rupanya, pasar baru segera muncul. India dan China kini menampung sekitar 80 persen ekspor minyak Rusia, dengan Turki juga jadi pembeli yang cukup signifikan. Nah, belakangan ini, antrean pembeli dari Asia malah makin panjang.

“Permintaan sangat tinggi, terutama dari tujuan alternatif,” ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Dia menambahkan, “Akibatnya, bisa saja muncul titik ketika menjadi sulit untuk memenuhi permintaan tambahan.”

Rusia sendiri sebenarnya diuntungkan oleh situasi ini. Harga minyak tinggi, ditambah ada keringanan sanksi dari AS untuk pembelian minyak yang diangkut lewat laut itu berlaku selama 30 hari. Pendapatan dari minyak dan gas memang vital, menyumbang seperempat anggaran negara mereka.

Tapi jangan salah, kemampuan Rusia untuk mengekspor lebih banyak juga terbatas. Serangan drone Ukraina disebut-sebut telah memangkas setidaknya 40 persen kapasitas ekspor minyak mereka. Jadi, di satu sisi permintaan melonjak, di sisi lain kemampuan produksi dan pengiriman terkendala.

Filipina, misalnya, baru saja membeli dua kargo minyak ESPO Blend dari wilayah Timur Jauh Rusia. Totalnya sekitar 1,5 juta barel. Ini jadi pembelian pertama mereka dalam lima tahun terakhir. Dua kapal tanker, Sara Sky dan Tiger Wings, sudah mengirimkan minyak itu ke Pelabuhan Limay, yang melayani kilang Bataan.

Sementara Thailand, lewat Wakil Perdana Menteri Phiphat Ratchakitprakarn, mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan Rusia soal potensi pembelian minyak mentah. Di Sri Lanka, beberapa media lokal juga ramai memberitakan negosiasi pasokan minyak dari Rusia.

Tak ketinggalan, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh baru-baru ini berkunjung ke Moskow. Dalam pertemuannya, dia meminta perusahaan minyak Rusia, Zarubezhneft, untuk meningkatkan investasi dan memasok minyak mentah ke Vietnam dalam jangka panjang. Langkah ini jelas mempertegas betapa banyak negara Asia kini memutar otak mencari sumber energi yang aman dan mungkin lebih terjangkau.

Jadi, peta energi global sedang berubah. Dan Rusia, meski dibebani sanksi dan serangan, rupanya masih menemukan banyak pelanggan yang antre di pintunya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar