JAKARTA Roy Suryo, pakar telematika yang dikenal vokal, menyelipkan sindiran tajam untuk Presiden Joko Widodo. Sindiran itu terkait kehadiran Jokowi di pengadilan atau tepatnya, ketidakhadirannya. Menurut Roy, sang presiden bisa saja melawat ke Makassar, tapi untuk memenuhi panggilan pengadilan di Solo, tampaknya berat.
Semua ini berawal dari pertanyaan Razman Arif, Ketua Umum KAMI Jokowi, dalam sebuah dialog di iNews TV. Razman mempertanyakan langkah Roy Suryo yang justru membawa persoalan uji ijazah Jokowi ke Mahkamah Konstitusi. Padahal, sebelumnya Roy disebut-sebut ingin pembuktian dilakukan di persidangan biasa.
"Bukankah kalian sudah menyiapkan 1.000 pertanyaan ingin menguji di pengadilan," tanya Razman dalam program Rakyat Bersuara, Selasa lalu, "malah melebar ke Mahkamah Konstitusi?"
Roy Suryo tak langsung menjawab pertanyaan itu. Alih-alih, dia balik menyindir.
"Siapa yang nggak pernah datang ke pengadilan itu siapa?" ujarnya. "Ditunggu empat kali di Solo nggak datang. Ke mana dia? Mau ke Makassar bisa, tapi ke Solo nggak berani."
Razman pun membalas. Menurutnya, justru Roy-lah yang ditunggu-tunggu kehadirannya di pengadilan, bukan Jokowi.
"Itu bukan pelaporan Anda, Mas Roy yang ditunggu dengan Rismon di sono," sahut Razman.
Ia kemudian kembali ke pokok pertanyaannya. "Kalau Mas Roy ingin menguji ini di pengadilan, ada 1.000 pertanyaan, sudah secepatnya agar sidang di pengadilan. Itu forum untuk menguji ijazah Jokowi," tegasnya.
Pertukaran pandangan ini meninggalkan kesan bahwa polemik seputar ijazah presiden masih punya jalan panjang. Di satu sisi ada tuntutan uji materi ke MK, di sisi lain ada desakan untuk menyelesaikannya di ranah pengadilan biasa. Suasana debatnya sendiri terasa cukup hangat, khas percakapan politik Indonesia yang kerap berliku.
Artikel Terkait
Wamenkeu: Subsidi BBM Dijaga Demi Stabilitas Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
Gubernur DKI Setujui Pembangunan PLTSa di Bantargebang untuk Tekan Emisi Metana
Defisit APBN Tercatat Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Klaim Masih Terkendali
Uni Eropa Longgarkan Aturan AI demi Daya Saing, Tetap Pertahankan Regulasi Paling Ketat di Dunia