Ia melanjutkan, "Sejak awal saya sampaikan, hanya tiga orang yang bisa hentikan perang di Gaza itu, pertama Netanyahu, kedua Trump, dan ketiga Hamas, siapapun pimpinan Hamas. Sekarang ini untuk Trump dengan caranya yang menurut kita tentu kasar tapi juga ingin mengambil kebijakan lain atau memperlihatkan kekuatan Amerika di mana orang semua terpaksa ikut dengan kekuasaan-kekuasaan, baik militer dan ekonomi."
Namun begitu, struktur forum itu sendiri yang jadi persoalan. JK menyayangkan fakta bahwa semua keputusan akhir mutlak di tangan Trump. Negara-negara lain cuma jadi pendengar dan pengusul, yang usulnya bisa diveto kapan saja.
"Dalam persetujuan itu dituliskan Ketuanya Trump sekaligus dia mempunyai Hak Veto, lainnya bisa mengusulkan tapi di veto mau apalagi, jadi artinya lembaga itu wadah Trump. Semua negara hanya pendengar dan pengusul sesuatu, tapi semua keputusan ada di Donald Trump," tegas JK.
Di sisi lain, kehadiran sejumlah negara Islam dalam forum itu memberi secercah harapan. Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Indonesia diharapkan bisa menyuarakan aspirasi rakyat Palestina yang sebenarnya. Itu tugas berat. Selain gencatan senjata, pemulihan Gaza yang porak-poranda harus jadi prioritas.
"Terpenting menghentikan perang ini karena apapun perang ini kekalahannya Gaza, tidak bisa bergerak, untuk menghentikan korban jiwa, luka, gedung hancur," katanya.
Dan ia menambahkan dengan nada serius, "Harapan kita cuma satu, karena Indonesia, Turki, Arab Saudi, Qatar dan lainnya, kita harap mereka dapat mewakili kepentingan Palestina, kalau negara Islam tidak mewakili kepentingan atau aspirasi Palestina, maka ini akan menjadi masalah."
Artikel Terkait
BI Resmi Gabung Proyek Nexus, Genjot Pembayaran Lintas Negara
Mafirion Desak Pengungkapan Pelaku Lain di Balik Penganiayaan Nenek Saudah
KAI Catat Angkutan Barang Non-Batubara Tembus 983 Ribu Ton di Awal 2026
Ivar Jenner Resmi Bebas dari FC Utrecht, Kini Incar Klub Indonesia