Maka dari itu, pesannya jelas: Indonesia harus kuat. Harus mandiri. Ia mengingatkan pesan Bung Karno tentang berdiri di atas kaki sendiri, juga ajaran Panglima Besar Sudirman untuk percaya pada kekuatan sendiri. Itulah satu-satunya jaminan.
Membaca dinamika geopolitik global, Prabowo melihat realitas yang keras. Dunia ini, menurutnya, bukan tempat yang ideal. Teori-teori indah seringkai tak berlaku di lapangan.
“Dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, yang punya banyak gelar saya hormati mereka, tapi dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Saya selalu mengingatkan, mengajarkan yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita,” lanjut Prabowo.
Sebagai presiden, tanggung jawab utamanya adalah keselamatan rakyat. Itu yang utama. Karena itulah, Indonesia akan berusaha bersikap baik kepada semua pihak. Tujuannya untuk melindungi kepentingan nasional, meski kadang hati tak sejalan.
“Kadang-kadang gampang untuk kita bilang, gampang kita ngomong, tapi kadang-kadang tidak gampang untuk dilaksanakan. Kadang-kadang hati kita bergejolak, tapi kita harus senyum karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Ucapan Idul Fitri via WhatsApp Jadi Jembatan Silaturahmi di Era Digital
Presiden Prabowo Salat Id di Aceh, Istana Buka Halalbihalal untuk 5.000 Warga
Presiden Prabowo Salat Id di Aceh, Istana Gelar Open House Lebaran
Presiden Prabowo Buka Istana Negara untuk Halalbihalal Umum, Targetkan 5.000 Tamu