Imlek Tak Hanya di Kalender, Tapi Juga di Dapur dan Ingatan

- Rabu, 28 Januari 2026 | 22:00 WIB
Imlek Tak Hanya di Kalender, Tapi Juga di Dapur dan Ingatan

Pengalaman soal makanan dan ingatan ini saya rasakan lagi belum lama ini, waktu berkunjung ke sebuah restoran peranakan di Jakarta Pusat. Bukan cuma makanannya yang bikin terkesan, tapi suasana tempatnya. Bangunan lama, interior bernuansa tempo doeloe, detail-detail visual yang kecil semuanya membawa kita masuk ke narasi kehidupan keluarga peranakan di masa lalu.

Di tempat seperti ini, makan bukan aktivitas yang buru-buru. Ia jadi pengalaman yang memaksa kita untuk memperlambat waktu. Setiap hidangan seperti bisik-bisik pengingat: masakan ini lahir dari dapur rumah tangga, dari kehidupan keluarga yang tumbuh di tengah percampuran budaya Tionghoa, Jawa, dan Eropa. Ruangnya sendiri sudah bercerita, tanpa perlu penjelasan bertele-tele.

Ini jadi relevan banget kalau kita tilik lagi makna Imlek. Pada intinya, perayaan ini kan soal kebersamaan dan ingatan. Duduk bersama, berbagi hidangan, mengulang ritual yang sama tiap tahun itu cara sederhana untuk menjaga tradisi tetap bernyawa. Makan bersama berubah dari rutinitas jadi peristiwa sosial yang sarat makna.

Lihatlah masakan peranakan. Dengan segala kesederhanaannya, ia menunjukkan bahwa identitas budaya itu nggak statis. Ia terus menyesuaikan diri dengan zaman, tanpa kehilangan akar. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan individual, tradisi makan bersama saat Imlek justru jadi pengingat akan nilai-nilai yang lebih dalam.

Pada akhirnya, Imlek di Indonesia itu cerminan wajah bangsa kita sendiri: beragam, tidak seragam, tapi saling mengisi. Dari dapur sempit di rumah hingga restoran bernuansa heritage, tradisi ini hidup dalam bentuk yang berbeda-beda. Sejarah ternyata tak cuma tersimpan di buku tebal, tapi juga dalam rasa, aroma, dan kebiasaan yang diulang dari generasi ke generasi.

Mungkin itu sebabnya Imlek selalu terasa akrab. Ia bukan cuma peristiwa tahunan yang dirayakan, tapi bagian dari keseharian yang dialami. Selama masih ada meja makan yang mempertemukan orang-orang, dan masakan yang menyimpan cerita di baliknya, Imlek akan terus hidup. Bukan cuma sebagai tradisi, tapi sebagai ingatan kolektif kita yang terus berjalan bersama waktu.


Halaman:

Komentar