Bagi saya, Imlek itu rasanya tak pernah cuma soal satu hari. Ia sudah tercium di udara jauh sebelum hari-H, dan masih menggantung di ruang keluarga lama setelah perayaan usai. Aroma masakan, kebiasaan duduk melingkar, cerita-cerita lama yang tiba-tiba muncul saat semua orang sudah kenyang di situlah Imlek sebenarnya hidup.
Di Indonesia, perayaan ini tak tumbuh dalam ruang hampa. Sudah sejak komunitas Tionghoa menginjakkan kaki di Nusantara, Imlek melalui proses perjumpaan yang panjang dengan budaya lokal. Ia beradaptasi, berubah bentuk, tapi tetap menemukan caranya sendiri untuk bertahan. Nilai-nilai intinya seperti penghormatan pada leluhur dan kebersamaan keluarga tak pernah hilang. Cuma, ia diterjemahkan ulang sesuai konteks kita.
Nah, bukti perjumpaan budaya itu paling nyata justru di dapur. Makanan itu saksi sejarah yang paling jujur, lho. Ia lahir dari kebutuhan sehari-hari dan diwariskan tanpa banyak teori. Dari dapur-dapur rumahan, teknik masak Tionghoa bertemu dengan rempah dan bahan lokal. Jadilah masakan peranakan, yang sekarang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari lidah Indonesia.
Dalam Imlek, makanan jelas bukan cuma urusan perut. Setiap hidangan bawa harapan dan simbol: umur panjang, kemakmuran, kesehatan. Tapi di sini, simbol-simbol itu nggak kaku. Ia menyesuaikan. Bumbu lokal masuk, teknik masak disesuaikan, penyajiannya jadi lebih bersahaja. Hasilnya? Rasa yang terasa dekat dan personal.
Yang unik, banyak resep peranakan ini nggak pernah ditulis rapi di buku. Ia hidup dalam ingatan dan kebiasaan turun-temurun. Dari ibu ke anak, rasa dijaga bukan dengan takaran presisi, tapi dengan pengalaman. “Secukupnya” dan “kira-kira” jadi bahasa dapur yang paling umum.
“Rasa itu diajarkan, bukan cuma ditulis,” begitu kira-kira semangatnya.
Dalam arti itu, masakan peranakan lebih dari sekadar kuliner. Ia adalah arsip budaya yang hidup dan terus bergerak.
Artikel Terkait
Sirine Meraung di Malam Gelap, Warga Bekasi Berhamburan Dengar Peringatan Banjir
Shayne Pattynama dan Cinta Pertamanya: Soto Ayam di Hati, Persija di Kaki
Indonesia Pacu Produksi Chip, Andalkan Pasir Silika untuk Jawab Kelangkaan Global
Kolaborasi Tuntaskan Krisis Air Bersih di Kampung Tambat, Merauke