Kisah Sithuk dan Yatidjo: Andong Bertahan di Tengah Deru Malioboro

- Rabu, 28 Januari 2026 | 00:06 WIB
Kisah Sithuk dan Yatidjo: Andong Bertahan di Tengah Deru Malioboro

Derap kaki kuda terdengar pelan di tengah riuhnya Malioboro. Suaranya hampir hilang, dikalahkan klakson motor dan celoteh wisatawan. Tapi sebuah andong tetap melaju. Tak terburu-buru. Di kursi depan, Sithuk duduk tegak, tangan menggenggam tali kekang dengan mantap. Gerakannya luwes, hasil belasan tahun ia jalani profesi ini.

“Dulu penumpang ramai, apalagi kalau musim liburan. Sekarang sudah berkurang,” ucapnya. Suaranya lirih, nyaris tenggelam.

Dua dekade menjadi kusir. Ia telah melihat Yogyakarta berubah total. Tapi Sithuk bertahan. Bagi dia, andong bukan cuma soal cari nafkah. Ini bagian dari hidup yang susah dilepaskan begitu saja. Memang, zaman sudah berubah. Kehadiran ojek online dan mobil pribadi membuat orang enggan naik andong untuk mobilitas harian. Tapi Sithuk punya keyakinan. Andong menawarkan sesuatu yang tak dimiliki kendaraan lain.

“Naik andong itu lebih santai. Jalannya pelan, bisa menikmati suasana,” katanya.

Pelannya bukan berarti ketinggalan. Itu justru caranya sendiri menikmati kota.

Di sisi lain, Yatidjo, kusir lain yang biasa mangkal di kawasan itu, punya ritual pagi. Sebelum mulai narik, ia pastikan kudanya sehat dan cukup makan.

“Kuda itu partner kerja. Kalau tidak dirawat, kasihan dan tidak bisa kerja lama,” ujarnya.

Hubungan mereka bukan sekadar relasi kerja. Ada tanggung jawab dan kepedulian di sana. Yatidjo mengakui pergeseran fungsi andong. Dulu jadi angkutan harian, kini lebih banyak untuk wisata.

“Sekarang yang naik kebanyakan wisatawan. Mereka ingin merasakan Jogja yang klasik, sambil foto-foto,” jelasnya.

Memang, daya tarik utamanya kini adalah sebagai simbol budaya. Bagi sebagian orang, andong menyimpan kenangan. Seperti Khalid Nurhaya, mahasiswa perantau asal Pati. Ia masih ingat betul naik andong waktu kecil, jalan-jalan keluarga ke Jogja.

“Waktu itu rasanya senang. Jalannya pelan, bisa lihat-lihat kota bareng keluarga,” tuturnya.

Pengalaman itu membekas. Membentuk kesannya tentang Yogya sebagai kota yang ramah, tak terburu-buru. Nilai emosionalnya sulit diukur dengan uang.

Tapi tak semua punya ikatan serupa. Raditya Zain, mahasiswa dari Kudus, misalnya. Selama di Jogja, ia belum sekalipun naik andong. Lebih memilih motor atau transportasi online yang dinilai praktis.

Meski begitu, Raditya mengakui andong punya peran lain. “Andong itu sudah jadi ciri khas Yogyakarta. Kalau di kawasan wisata seperti Malioboro, hampir selalu kelihatan andong lewat,” ujarnya.

Keberadaannya memberi warna. Menjadi penanda visual yang kuat di ruang publik.

Jadi, andong kini ada di persimpangan. Di satu sisi, ia tersisih dari fungsi praktisnya. Di sisi lain, ia bertahan sebagai identitas dan pengalaman wisata. Para kusir seperti Sithuk dan Yatidjo terjepit di tengah perubahan ini. Penghasilan tak menentu, persaingan ketat, plus tuntutan merawat kuda. Itu semua tantangan nyata.

Tapi bagi mereka, ini bukan cuma urusan ekonomi. Ada kebanggaan dan satu tanggung jawab untuk menjaga agar andong tak hilang dari jalanan.

Keberlangsungannya sangat bergantung pada cara kita memandangnya. Seringkali andong cuma dilihat sebagai objek foto, bukan sebagai bagian dari sistem yang pernah hidup dan menopang kota. Pandangan simbolis ini kerap mengabaikan kesejahteraan kusir dan kudanya.

Sithuk paham betul. “Bekerja sekarang butuh kesabaran lebih,” akunya. Tak setiap hari dapat penumpang. Tapi ia tetap mangkal tiap pagi.

“Kalau tidak mangkal, ya tidak ada harapan dapat penumpang.”

Baginya, bertahan berarti memberi ruang agar andong tetap terlihat dan diingat. Yatidjo berharap hal serupa. Ia ingin andong dihargai sebagai warisan hidup yang masih bernafas, bukan sekadar pajangan kota atau simbol masa lalu yang usang.

“Kalau masih ada yang mau naik dan menikmati, berarti andong masih punya tempat,” ujarnya.

Selama masih ada yang ingin menikmati perjalanan tanpa terburu-buru, andong akan tetap ada. Melaju pelan di sela deru mesin. Sederhana, setia pada iramanya sendiri. Di antara perubahan yang tak terbendung, ia membawa cerita tentang Yogya yang belum sepenuhnya melupakan jejaknya.


Evan Faiz Daniswara, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar