Tapi tak semua punya ikatan serupa. Raditya Zain, mahasiswa dari Kudus, misalnya. Selama di Jogja, ia belum sekalipun naik andong. Lebih memilih motor atau transportasi online yang dinilai praktis.
Meski begitu, Raditya mengakui andong punya peran lain. “Andong itu sudah jadi ciri khas Yogyakarta. Kalau di kawasan wisata seperti Malioboro, hampir selalu kelihatan andong lewat,” ujarnya.
Keberadaannya memberi warna. Menjadi penanda visual yang kuat di ruang publik.
Jadi, andong kini ada di persimpangan. Di satu sisi, ia tersisih dari fungsi praktisnya. Di sisi lain, ia bertahan sebagai identitas dan pengalaman wisata. Para kusir seperti Sithuk dan Yatidjo terjepit di tengah perubahan ini. Penghasilan tak menentu, persaingan ketat, plus tuntutan merawat kuda. Itu semua tantangan nyata.
Tapi bagi mereka, ini bukan cuma urusan ekonomi. Ada kebanggaan dan satu tanggung jawab untuk menjaga agar andong tak hilang dari jalanan.
Keberlangsungannya sangat bergantung pada cara kita memandangnya. Seringkali andong cuma dilihat sebagai objek foto, bukan sebagai bagian dari sistem yang pernah hidup dan menopang kota. Pandangan simbolis ini kerap mengabaikan kesejahteraan kusir dan kudanya.
Sithuk paham betul. “Bekerja sekarang butuh kesabaran lebih,” akunya. Tak setiap hari dapat penumpang. Tapi ia tetap mangkal tiap pagi.
“Kalau tidak mangkal, ya tidak ada harapan dapat penumpang.”
Baginya, bertahan berarti memberi ruang agar andong tetap terlihat dan diingat. Yatidjo berharap hal serupa. Ia ingin andong dihargai sebagai warisan hidup yang masih bernafas, bukan sekadar pajangan kota atau simbol masa lalu yang usang.
“Kalau masih ada yang mau naik dan menikmati, berarti andong masih punya tempat,” ujarnya.
Selama masih ada yang ingin menikmati perjalanan tanpa terburu-buru, andong akan tetap ada. Melaju pelan di sela deru mesin. Sederhana, setia pada iramanya sendiri. Di antara perubahan yang tak terbendung, ia membawa cerita tentang Yogya yang belum sepenuhnya melupakan jejaknya.
Evan Faiz Daniswara, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi
Artikel Terkait
Trump Ungkap Armada AS di Iran Lebih Besar dari Venezuela, Sinyal Opsi Militer Makin Nyata
Menkeu Purbaya Serahkan Kendali Rupiah Sepenuhnya ke BI
Whoosh Jadi Primadona Turis Mancanegara, Malaysia Puncaki Daftar
KSSK Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4% di Tengah Gejolak Global