Pelatih Persis Solo Beberkan Alasan Cuci Gudang: Mentalitas Pemain Jadi Masalah

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:30 WIB
Pelatih Persis Solo Beberkan Alasan Cuci Gudang: Mentalitas Pemain Jadi Masalah

SOLO Persis Solo lagi-lagi terperosok di papan tengah klasemen. Kalau kita tilik, situasi mereka ini mirip banget dengan yang dialami PSM Makassar beberapa waktu lalu. Apa sih masalah utamanya? Ternyata, soal mentalitas pemain. Itu yang bikin performa tim anjlok.

Pelatih kepala Persis, Milomir Seslija, angkat bicara soal ini. Ia sedang mempersiapkan anak asuhnya untuk laga pekan ke-21 BRI Liga 1 melawan Madura United di Stadion Manahan.

Bagi Seslija, pertandingan nanti bukan cuma sekadar tiga poin yang diincar. Lebih dari itu, ini momen buat Laskar Sambernyawa membuktikan diri. Apalagi, manajemen baru saja mengambil keputusan radikal di tengah musim.

Ya, Persis melakukan perombakan besar-besaran. Langkah yang cukup berani, kalau tidak mau dibilang nekat.

Bayangkan, 17 pemain baru didatangkan untuk mengganti hampir seluruh skuad lama. Keputusan "cuci gudang" ini tentu bikin suporter bertanya-tanya. Perubahan drastis di tengah kompetisi itu riskan. Adaptasi taktik butuh waktu, chemistry antar-pemain juga nggak bisa instan.

Tapi Milomir Seslija punya alasan kuat. Menurutnya, langkah itu perlu. Bahkan, sangat mendesak.

Setelah dievaluasi, pelatih asal Bosnia itu menemukan akar masalahnya ada di mentalitas skuad lama. Hal itu berdampak langsung ke lapangan.

“Kami sudah menganalisis, kami tidak bisa menciptakan peluang, tidak meraih kemenangan, kebobolan banyak gol, atmosfer antara pemain tidak bagus,” ujar Seslija.

Ia tak sungkan menyebut sebagian pemain sebelumnya terlalu nyaman. Terjebak di zona aman.

“Para pemain terjebak di zona nyaman dan tidak termotivasi,” tegasnya.

Namun begitu, di balik risiko besar itu, Seslija justru optimis. Ia melihat sinyal positif dari para pendatang baru.

Ia memuji profesionalisme pemain asing yang langsung bisa beradaptasi. Mentalitas seperti itulah kunci yang dicari-cari Persis.

“Para pemain ini turun dari pesawat, langsung latihan dengan intensitas tinggi dan menjalani pertandingan. Kita bisa lihat bagaimana mereka bertanding dan mereka tidak menyerah. Itu yang sangat saya apresiasi,” ujar Seslija.

Kasus Persis ini memperlihatkan satu hal: masalah mentalitas di liga kita itu nyata dan sering terulang. PSM Makassar contohnya, mereka pernah mengalami fase kepercayaan diri yang hancur berantakan.

Sepak bola modern memang mengandalkan taktik canggih dan teknik individu. Tapi semua itu bisa buyar kalau mental tim lemah. Tanpa mental kompetitif yang kuat, susah keluar dari tekanan.

Jadi, perombakan skuad oleh Persis bukan cuma sekadar ganti pemain. Ini lebih pada upaya membangun ulang karakter tim. Fondasi itulah yang diharap bisa mengangkat Laskar Sambernyawa dari keterpurukan, lalu kembali bersaing.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar