Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat di Terminal Pulo Gebang

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:40 WIB
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat di Terminal Pulo Gebang

Sabtu pagi (14/3/2026) di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, suasana sudah jauh berbeda dari hari-hari biasa. Keriuhan mulai terasa. Lonjakan penumpang arus mudik Lebaran 2026 benar-benar mulai terlihat, dan ini baru permulaan. Menurut prediksi, gelombang pemudik akan terus membesar hingga mencapai puncaknya nanti.

Data dari hari-hari sebelumnya sudah menunjukkan tren yang jelas. Kamis lalu, misalnya, lebih dari 2.800 orang sudah diberangkatkan. Mereka naik sekitar 404 bus antarkota yang meluncur ke berbagai penjuru daerah. Angka itu bukan main-main, dan menjadi penanda bahwa gelombang pulang kampung sudah mulai mengalir deras.

“Kami prediksi puncaknya akan terjadi pada 17 Maret nanti,”

kata pihak terminal. Mereka pun mengimbau calon penumpang untuk datang lebih awal ke terminal. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan, terutama soal barang bawaan dan anak-anak di tengah kerumunan yang pasti akan makin padat.

Nah, kalau lihat data Sabtu ini sampai pukul 09.45 WIB, suasana makin ramai saja. Sudah lebih dari 800 penumpang naik ke 112 bus yang berangkat. Padahal hari Jumat kemarin juga tak kalah sibuk, dengan sekitar 300 bus lagi yang membawa para pemudik meninggalkan ibu kota.

Menariknya, jadwal keberangkatan di terminal terbesar se-Asia Tenggara ini punya polanya sendiri. Pagi-pagi sekali, dominasi bus biasanya untuk tujuan Sumatra. Baru kemudian siang sampai sore hari, giliran bus-bus menuju Jawa Tengah yang banyak diberangkatkan. Pola ini membantu mengatur arus lalu lintas di dalam terminal agar tak terlalu kacau.

Intinya, Pulo Gebang sudah hidup dengan denyut mudik. Persiapan jelas diperlukan, karena dalam hitungan hari, terminal ini akan menjelma menjadi lautan manusia yang rindu kampung halaman.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar