Kuta Bukan Sekadar Destinasi: Sebuah Ruang Jeda di Tengah Dunia yang Terlalu Cepat

- Senin, 26 Januari 2026 | 08:06 WIB
Kuta Bukan Sekadar Destinasi: Sebuah Ruang Jeda di Tengah Dunia yang Terlalu Cepat

Bagi banyak orang, Pantai Kuta mungkin cuma destinasi liburan. Tapi bagi saya, dia lebih mirip sahabat lama. Seorang pendengar yang sabar, tempat semua penat setelah bergulat dengan tugas kuliah yang tak ada habisnya bisa akhirnya dipulangkan. Langkah kaki menuju pasirnya itu serasa pulang ke rumah.

Begitu telapak kaki menyentuh pasir putihnya yang hangat, tubuh yang tegang perlahan mengendur. Ombaknya datang dan pergi tanpa tergesa. Seolah paham, manusia kadang cuma butuh ditemani dalam diam. Kuta tak pernah janji akan memberi solusi. Dia cuma menyediakan ruang untuk bernapas lega.

Ngomong-ngomong soal itu, ada teori psikologi lingkungan dari Stephen Kaplan yang menarik. Katanya, alam punya pengalaman restoratif yang bisa memulihkan kelelahan mental. Kuta bekerja persis seperti itu. Diam-diam, sabar, dan konsisten.

Lokasinya yang cuma sekitar dua kilometer dari Bandara Ngurah Rai dan sepuluh kilometer dari Denpasar bikin pantai ini jadi yang pertama disapa turis. Dari jendela pesawat aja, garis pantainya udah mengundang rasa ingin turun cepat-cepat. Akses yang gampang ini juga yang bikin Kuta jarang banget sepi total.

Tapi justru di situlah daya tariknya, menurut saya. Dia jadi ruang publik yang nyata banget. Di sini, mahasiswa, peselancar, keluarga, sampai pekerja pariwisata berbagi horizon yang sama. Benar-benar sebuah shared gaze space.

Sayangnya, popularitas Kuta sering disalahpahami. Media sosial belakangan ramai menyorot Bali cuma lewat isu macet, banjir, dan sampah. Narasi kayak gini kan cenderung menyamaratakan. Padahal, realitas di lapangan selalu lebih berlapis-lapis.

Ambil contoh bulan Januari kemarin, saat musim hujan. Kuta justru terasa lebih lengang dan sejuk. Wisatawan tetap ada, tapi mereka lebih banyak jalan santai di pedestrian, duduk-duduk, atau cuma menatap laut. Keramaian di sini sifatnya elastis, lho. Ikut musim dan waktu.

Untuk memahami kelenturannya menghadapi perubahan, kita perlu lihat sejarahnya. Dalam buku Sejarah Kota Denpasar 1945–1979 karya A.A. Gde Putra Agung dkk., Kuta tercatat sebagai pelabuhan niaga penting abad ke-19. Dulu jadi titik perdagangan beras, kopra, bahkan ternak. Ada juga fase kelam perdagangan budak yang dimonopoli penguasa lokal.

Sejarah itu menunjukkan Kuta bukan ruang yang steril. Dia tumbuh dari dinamika ekonomi, konflik, dan adaptasi. Mungkin karena akar sejarah itulah Kuta sekarang terbiasa menerima manusia apa adanya.

Peralihannya jadi ruang rekreasi terjadi perlahan di pertengahan abad ke-20. Robert Pringle dalam A Short History of Bali mencatat peran tokoh seperti Mads Lange dan K’tut Tantri.


Halaman:

Komentar