Di sisi lain, Turaif di wilayah Perbatasan Utara pernah beberapa kali merasakan dingin hingga -8 derajat Celcius dalam periode yang sama. Sementara itu, kota Al Jouf sendiri mencatat suhu -7 derajat Celcius pada Februari 1989.
Rupanya, bukan cuma wilayah utara saja yang kena. Banyak kota lain juga pernah kebagian suhu di bawah nol. Arar pernah mencapai -6,3 derajat, Rafha -5,8 derajat. Ibu kota Riyadh pun tidak luput, dengan suhu terendahnya -5,4 derajat. Kemudian ada Buraidah di angka -5 derajat, Qassim -4,2 derajat, dan Tabuk -4 derajat.
Wilayah yang biasanya panas seperti Al Ahsa (-2,3°C), Wadi Al Dawasir (-2°C), Taif (-1,5°C), hingga Bisha (-1°C) juga pernah merasakan sentuhan dingin yang tak biasa di tahun-tahun berbeda.
Kalau dilihat polanya, tahun 2008 sepertinya adalah periode terdingin yang berhasil didokumentasikan. Beberapa kota besar seperti Hail, Riyadh, Buraidah, Qassim, dan Tabuk semuanya mencetak rekor suhu terendah pada tahun itu.
Laporan semacam ini bukan sekadar data biasa. Upaya NCM untuk menganalisis dan mendokumentasikan catatan iklim jangka panjang punya tujuan yang jelas: mendukung penelitian ilmiah dan, yang tak kalah penting, meningkatkan kesadaran publik tentang karakteristik iklim Saudi yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan beragam daripada sekadar panas menyengat. Negeri ini juga punya sisi lain yang bisa membuat orang menggigil.
Artikel Terkait
OJK Izinkan 10 Bank Daerah Bergabung ke Dalam Empat Kelompok Usaha
Emas Antam Tembus Rp2,9 Juta, Rekor Baru Tercipta di Awal Pekan
Jembatan Penghubung JIS-Ancol Diresmikan, Targetkan Konser Kelas Dunia di Ibu Kota
Kuta Bukan Sekadar Destinasi: Sebuah Ruang Jeda di Tengah Dunia yang Terlalu Cepat