Pertanyaan itu pasti langsung terlintas. Jawabannya bisa langsung kamu lihat begitu buahnya dibelah. Warna dagingnya merah menyala, bukan kuning biasa. Cita rasanya khas, aromanya kuat dan khas. Namun begitu, keunikan itu bukanlah kebetulan.
Semua itu lahir dari perpaduan spesial kondisi alam Banyuwangi. Faktor tanah, iklim, dan ketinggian wilayah memainkan peran besar. Menurut Ilham Juanda, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, faktor alam tadi berkolaborasi dengan kearifan lokal. Teknik budidaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat turut membentuk kekhasan buah ini.
Durian merah Banyuwangi juga termasuk langka. Saat ini, baru ada enam pohon induk yang terdaftar dalam IG. Namanya unik-unik: balqis, SOJ, gandrung, sayu wiwit, tawangalun, dan madu blambangan. Setiap pohonnya bisa menghasilkan rata-rata empat ton buah.
“Sejak 2015, tercatat sudah 12 jenis durian lokal Banyuwangi yang didaftarkan sebagai varietas unggul. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya merupakan durian merah,” jelas Ilham.
Sebagai langkah konkret pasca-penetapan, sertifikat Indikasi Geografis itu telah diserahkan kepada Masyarakat Perlindungan IG Durian Merah Banyuwangi di Kecamatan Songgon. Sebuah langkah awal untuk menjaga keaslian dan cerita di balik setiap buah merah yang istimewa ini.
Artikel Terkait
AirAsia Bersiap Borong 100 Pesawat Airbus A220 untuk Buka Rute Baru
Rumput Liar di Sela Paving: Pelajaran Ketangguhan yang Terlupakan
Menteri Trenggono Pingsan di Upacara Duka, Langsung Ditelepon Presiden Prabowo
Gibran Tinjau Lokasi Banjir Bandang Pasirlangu, Tegaskan Prioritas Selamatkan Jiwa