Bali kembali meraih sorotan dunia. Di tahun 2026 ini, pulau dewata itu dinobatkan TripAdvisor sebagai World’s Best Destination, mengalahkan kota-kota besar macam Paris atau London. Penghargaan ini, yang bersumber dari jutaan ulasan wisatawan, tentu saja membanggakan. Ia menegaskan betapa kuatnya daya pikat Bali di peta pariwisata global.
Namun begitu, di balik gemerlap piala dan pujian, ada cerita lain yang jarang terdengar. Isu lingkungan dan tekanan sosial justru menguat seiring membanjirnya turis. Prestasi kelas dunia, rupanya, tidak datang sendirian. Ia hampir selalu membawa konsekuensi yang harus kita hadapi dengan mata terbuka.
Sejak pandemi berlalu, gelombang wisatawan ke Bali melesat luar biasa. Data Badan Pusat Statistik mencatat 5,2 juta kunjungan warga asing sepanjang 2024. Ekonomi bergerak, usaha tumbuh, lapangan kerja terbuka. Tapi pertumbuhan yang terlalu agresif sering kali mengabaikan batas-batas alam. Coba lihat Kuta, Ubud, atau Canggu gejala overtourism sudah jelas terasa. Kemacetan parah, sampah menumpuk, dan krisis air bersih jadi masalah harian yang makin sulit dihindari.
Menurut sejumlah pengamat, masalah utamanya terletak pada ketimpangan. Promosi dan citra dibangun dengan cepat, sementara pengelolaan dan kebijakan lingkungan tertinggal jauh. Konsep Tourism Area Life Cycle dari Richard Butler sudah mengingatkan risiko ini sejak 1980-an. Tanpa pengendalian, sebuah destinasi akan mengalami penurunan kualitas. Bali, dalam kerangka itu, diduga sudah memasuki fase stagnasi secara ekologis.
Alih fungsi lahan jadi bukti nyata. WALHI Bali mencatat lebih dari seribu hektar sawah hilang hanya dalam setahun (2023). Sistem subak yang diakui UNESCO pun terancam. Lahan produktif berubah menjadi villa dan hotel.
“Ini soal orientasi ekonomi jangka pendek,” begitu kira-kira kritik yang sering dilontarkan. Investasi pariwisata kerap mengejar keuntungan cepat, mengabaikan keberlanjutan. David Harvey menyebutnya ‘akumulasi melalui perampasan’. Sumber daya seperti air dieksploitasi habis-habisan untuk industri pariwisata. Akibatnya, masyarakat lokal justru kesulitan mendapatkan air bersih. Ketimpangan sosial pun kian melebar wisatawan menikmati kemewahan, sementara warga menanggung beban kerusakan alam.
Lalu, apa sebenarnya pariwisata berkelanjutan itu? Secara teori, ia menuntut keseimbangan antara tiga aspek: lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. Sayangnya, di Bali, keberhasilan masih sering diukur semata dari kepuasan wisatawan. Indikator kesehatan ekologi dan kesejahteraan warga kerap terpinggirkan. John Urry dalam bukunya The Tourist Gaze mengingatkan bahaya memandang destinasi hanya sebagai komoditas visual, sekadar latar foto yang instagramable. Nilai-nilai lokal pun perlahan tergerus oleh selera pasar global.
Destinasi unggulan sejatinya harus melampaui sekadar popularitas di media sosial. Ia perlu mencerminkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di dalamnya. Seperti ditegaskan Amartya Sen, pembangunan adalah soal perluasan kebebasan manusia. Pariwisata idealnya bisa memperluas kebebasan sosial-ekonomi warga lokal. Di Bali, tujuan mulia ini belum sepenuhnya terwujud. Banyak pekerja di sektor ini masih bergaji rendah dan hidup dalam ketidakpastian. Ketergantungan yang terlalu besar pada pariwisata justru membuat ketahanan sosial masyarakat menjadi rapuh.
Artikel Terkait
Barcelona Siap Hantam Oviedo di Camp Nou, Siaran Langsung Malam Ini
Jakarta Terendam, 45 RT Masih Berjuang Melawan Genangan Ekstrem
Tahun Keempat Beruntun, Populasi China Terus Menyusut ke Titik Terendah
Prabowo Kembali ke Tanah Air Usai Kunjungan Diplomatik ke Eropa