Dia menegaskan, pendekatan klaster bukan cuma soal akses modal. Lebih dari itu, ini tentang membangun ekosistem. Dengan berkumpul dalam satu kelompok yang solid, pelaku usaha bisa berkolaborasi, meningkatkan skala produksi, dan akhirnya punya daya saing yang lebih baik di pasar lokal.
Hasilnya? Ternyata cukup menggembirakan. Dari ratusan ribu anggota klaster, hampir 88 persen di antaranya sudah punya rekening di BRI dan kebanyakan juga terhubung dengan fasilitas pembiayaan. Artinya, upaya inklusi keuangan berjalan seiring dengan pemberdayaan usahanya.
Kalau ditelisik lebih jauh, "Klasterku Hidupku" ini sebenarnya cuma satu bagian dari puzzle besar strategi BRI. Mereka punya juga program Desa BRILiaN, Rumah BUMN, dan LinkUMKM. Semuanya bertujuan sama: memperkuat peran bank sebagai agen pembangunan, khususnya untuk menyokong ekonomi kerakyatan.
Jadi, langkah BRI ini lebih dari sekadar angka statistik. Ini tentang membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh, satu klaster demi satu klaster.
Artikel Terkait
Bahlil Anggap Target Lifting Minyak 1,6 Juta Barel Mustahil Dicapai
Banjir Bekasi Meluas, 30 Ribu Keluarga Terdampak dan Ribuan Mengungsi
RSUD Tarempa Resmi Beroperasi, Warga Anambas Tak Perlu Lagi Dirujuk ke Luar Daerah
Bandara San Francisco Dinobatkan sebagai Bandara Terindah di Dunia untuk 2026