Dari kalkulasinya, sekitar dua pertiga total korban berasal dari aparat yang sedang menjalankan tugas dan warga tak bersalah. Sebuah proporsi yang cukup mencengangkan.
Namun begitu, Boroujerdi berusaha memberikan penjelasan. Ia memastikan aparat kepolisian di lapangan sudah dapat peringatan keras. Intruksinya jelas: jangan menembak ke bagian tubuh vital. Kebijakan ini dibuat untuk meminimalisir korban jiwa selama kerusuhan berlangsung.
Ironisnya, situasinya justru berbalik. Alih-alih warga sipil yang banyak jatuh, justru banyak petugas kepolisian sendiri yang berakhir menjadi korban.
“Dan untuk aparat kepolisian yang melawan pihak yang melakukan kerusuhan, lebih banyak mereka melakukan penembakan di bagian badan agar tidak menciptakan korban,” pungkasnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
BSU 2026 Masih Isapan Jempol, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Keputusan
Hujan Deras Lumpuhkan Jakarta, Transjakarta Terpaksa Potong Rute
Banjir Landa Akses Halim, Penumpang Whoosh Diimbau Cari Jalur Alternatif
Persib Siap Sambut PSBS dengan Optimisme di Pembuka Putaran Kedua