Dari kalkulasinya, sekitar dua pertiga total korban berasal dari aparat yang sedang menjalankan tugas dan warga tak bersalah. Sebuah proporsi yang cukup mencengangkan.
Namun begitu, Boroujerdi berusaha memberikan penjelasan. Ia memastikan aparat kepolisian di lapangan sudah dapat peringatan keras. Intruksinya jelas: jangan menembak ke bagian tubuh vital. Kebijakan ini dibuat untuk meminimalisir korban jiwa selama kerusuhan berlangsung.
Ironisnya, situasinya justru berbalik. Alih-alih warga sipil yang banyak jatuh, justru banyak petugas kepolisian sendiri yang berakhir menjadi korban.
“Dan untuk aparat kepolisian yang melawan pihak yang melakukan kerusuhan, lebih banyak mereka melakukan penembakan di bagian badan agar tidak menciptakan korban,” pungkasnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran