Dari dua varian itu, sambal hijau rupanya lebih banyak digemar. Dendengnya sendiri bertipe basah, dengan potongan daging yang tebal tapi empuk. Begitu masuk ke mulut, aroma bakarannya yang smoky langsung terasa. Rasa gurihnya meresap sampai ke dalam, dipadu sambal hijau khas Minang yang pedas segar dengan sentuhan asam. Kombinasi inilah yang disebut-sebut jadi rahasia kenapa banyak pelanggan jadi jatuh hati.
Keputusan beralih ke sistem PO sebenarnya terpaksa. Kapasitas warung yang terbatas sama sekali tak sanggup lagi menampung membludaknya pengunjung kalau tetap buka layanan makan di tempat.
Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan sekitar 80 kilogram daging untuk memenuhi semua pesanan. Proses pembakarannya dilakukan di ruang khusus agar asapnya tak mengganggu warga sekitar. Mereka pakai batok kelapa, yang katanya memberi cita rasa lebih gurih dan autentik. Setelah dibakar, daging didinginkan dulu sebelum akhirnya dikemas rapi di wadah tahan panas.
Pembeli bisa ambil pesanan langsung di warungnya, atau memilih menggunakan jasa ojek online. Jaso Mande berlokasi di Perumahan Ciputat Baru, Jalan Mawar, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan.
Menunggu berbulan-bulan memang bukan waktu yang singkat. Tapi antusiasme pelanggan sepertinya tak pernah padam. Itu mungkin bukti terbaik bahwa dendeng batokok Jaso Mande sudah punya cerita dan cita rasa sendiri yang sulit dilupakan.
Artikel Terkait
Pariwisata Indonesia Cetak Rekor Kunjungan dan Devisa, Tapi Peringkat ASEAN Masih Jadi Tantangan
Fahmi Siap Penuhi Dua Syarat Istri untuk Akhiri Konflik Rumah Tangga
Gubernur DKI Bantah Pasar Sepi, Pedagang Daging Dinilai Tetap Buka Lapak
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan di Kawasan Hutan Rawan Bencana