Konektivitas Transjakarta Hampir Sempurna, Tapi Penumpang Masih Sepi

- Selasa, 20 Januari 2026 | 20:50 WIB
Konektivitas Transjakarta Hampir Sempurna, Tapi Penumpang Masih Sepi

Konektivitas jaringan Transjakarta sudah hampir sempurna, mencapai 92 persen. Tapi, angka itu ternyata tak sejalan dengan jumlah penumpangnya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui bahwa pemanfaatannya masih sangat rendah.

"Yang berikutnya 92 persen itu adalah Transjakarta secara keseluruhan konektivitas terhubungnya. Pemanfaatannya mungkin di bawah 25 persen ya, 23,4 persen,"

Ucap Pramono di Jakarta Pusat, Selasa lalu. Suasana di balik pernyataannya jelas: ada gap yang lebar antara infrastruktur yang dibangun dan kebiasaan warga.

Menurutnya, ada titik kritis yang bisa mengubah keadaan. Jika penggunaan transportasi umum bisa didongkrak sampai ke level 30 persen, dampaknya bagi kemacetan ibukota akan signifikan.

"Kalau masyarakat kita sudah menggunakan katakanlah 30 persen secara terus-menerus secara signifikan itu pasti akan mengurangi kemacetan yang ada di Jakarta,"

tegasnya. Imbauannya pun langsung: warga harus mulai berpikir untuk meninggalkan kendaraan pribadi.

Alasannya masuk akal. Sekarang, Transjakarta bukan lagi bis tunggal. Jaringannya sudah menyatu dengan Jaklingko, MRT, dan LRT Jakarta. Jadi, opsi untuk berpindah moda transportasi sudah jauh lebih mudah ketimbang dulu.

"Nah saya ingin meningkatkan ini supaya orang itu secara terus-menerus memanfaatkan angkutan umum yang dimiliki oleh pemerintah Jakarta itu secara terus-menerus. Bukan kemudian masih menggunakan kendaraan pribadinya,"

tambah Pramono.

Namun begitu, realitanya di jalan lain. Banyak warga, rupanya, masih setengah hati. Mereka belum sepenuhnya percaya atau mungkin belum terbiasa. Kendaraan pribadi masih jadi andalan utama.

Bahkan, ada pola unik yang kerap terlihat. Sejumlah orang memulai perjalanan dengan mobil atau motor pribadi, lalu parkir di titik tertentu, baru naik transportasi umum. Setelah sampai tujuan, mereka kembali lagi ke kendaraan pribadi.

"Masih banyak yang kemudian berangkat ke kantor naik kendaraan pribadi atau menitipkan kendaraan pribadi di park and ride dan kemudian dia menggunakan transportasi umum kemudian dia kembali lagi ke transportasi pribadi,"

paparnya menggambarkan kebiasaan itu.

Jadi, tantangannya kini bukan lagi soal koneksi. Tapi lebih ke bagaimana mengubah pola pikir dan kebiasaan sehari-hari warga ibukota.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar