Di Gedung DPR, Senin lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme yang cukup tinggi. Target pertumbuhan ekonomi 6 persen di tahun ini, menurutnya, sangat realistis untuk dicapai. Ia tak sekadar berharap, tapi memaparkan sejumlah strategi konkret yang sedang dijalankan pemerintah.
Kuncinya ada pada sinergi. Purbaya menekankan pentingnya kerja sama yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter, terutama dengan Bank Indonesia. Langkah pertama yang diambil adalah memastikan likuiditas dalam sistem keuangan nasional benar-benar terjaga dan cukup. "Yang pertama berdoa," ujarnya dengan canda, sebelum masuk ke penjelasan yang lebih teknis.
"Pertama, kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup baik. BI dan keuangan sudah setuju untuk menjaga itu bersama."
"Yang kedua, saya pastikan program-program belanja pemerintah dibelanjain cepat di awal tahun ini. Terus, kalau likuiditas sistem cukup baik biasanya sektornya jalan kan," kata Purbaya.
Di sisi lain, pemerintah tak hanya bergantung pada sisi permintaan. Upaya perbaikan iklim investasi juga digenjot, salah satunya lewat proses "debottlenecking" atau penguraian hambatan aturan. Memang sempat ada penyesuaian jadwal karena agenda rapat di DPR yang padat, namun agenda penyelesaian hambatan investasi ini disebutnya terus berjalan.
Purbaya mengakui bahwa dampak dari stimulus ekonomi memerlukan waktu. Tidak instan. Tapi ia yakin, dengan perbaikan di segala lini, target itu bisa digapai.
"Jadi, kita akan perbaiki semuanya. Kita akan perbaiki supply, demand, ekonomi investasi. Kebijakan moneter, kebijakan fiskal, sektor, semuanya kita jalankan. Enam persen enggak terlalu sulit."
"Tahun ini 6 persen bisa. Karena ekonomi itu responsnya cenderung agak lambat terhadap stimulus, kalau saya inject sekarang ke sistem mungkin 4 bulan baru kelihatan," tegasnya.
Optimisme Menkeu ini rupanya punya dasar yang kuat di pasar. Ia menyoroti lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak level tertinggi baru-baru ini. Bagi Purbaya, ini bukan fenomena kebetulan, melainkan sinyal kepercayaan. Modal asing yang masuk secara konsisten dalam tiga bulan terakhir menjadi buktinya.
"Tapi kan, Anda lihat triwulan pertama, udah kelihatan Januari lebih bergairah daripada tahun-tahun sebelumnya," katanya.
"IHSG naik bukan karena pemain pasar bodoh. Mereka itu orang-orang pintar, mereka melihat aspek kehidupan seperti apa, mereka nilai kebijakan kita seperti apa, kemudian mereka tentukan posisi berdasarkan itu. Jadi, asing sudah masuk ke sini 3 bulan terakhir kan modal asing inflow-nya positif."
Aliran dana asing yang positif itu diharapkan tak hanya menggerakkan pasar modal. Lebih jauh, ia berpotensi menguatkan nilai tukar rupiah seiring bertambahnya suplai dolar di dalam negeri. Sebuah momentum yang tengah dibangun, dan menurut sang Menteri, sedang menuju arah yang tepat.
Artikel Terkait
Bapanas: Harga Pangan Terkendali, Ancaman Utama dari Kenaikan Biaya Kemasan
Kapolri Instruksikan Satgas Haji 2026 untuk Jamin Keamanan Jamaah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Tangguh di Tengah Ketegangan Global
DPR Gelar Rapat Finalisasi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga