Stephen Biggar, analis di Argus Research, punya prediksi.
Memang, selama bertahun-tahun industri perbankan punya track record kuat menolak aturan pembatasan bunga di Kongres. Dan sikap itu belum berubah. Dalam beberapa pekan ke depan, bisa dipastikan gelombang lobi dan advokasi akan menguat untuk melawan proposal ini.
Alasannya sederhana: bisnis kartu kredit itu sangat menguntungkan. David Krakauer dari Mercer Advisors bilang, pembatasan suku bunga bakal langsung menggerus ekspektasi laba bank-bank besar dan perusahaan kartu. Imbasnya ke pasar saham bisa luas.
Lalu, apa jalan tengahnya? Mungkin kompromi. Penyedia kartu bisa menawarkan produk inovatif, misalnya kartu dengan bunga rendah untuk segmen nasabah tertentu. Atau, kartu ‘polos’ tanpa program rewards yang bunganya 10 persen, tapi dengan limit lebih rendah. Beberapa bank, contohnya Bank of America, sudah punya produk mirip begini.
Tapi tetap saja, ruang gerak mereka terbatas.
Intinya, volatilitas kebijakan ini kemungkinan besar akan memicu gejolak di pasar. Sampai ada kejelasan entah itu berupa draft regulasi, pernyataan resmi, atau malah wacana yang menguap begitu saja bank dan investor akan terus berada dalam ketidakpastian. Ujian politik yang rumit, memang.
Artikel Terkait
Menag Terbang ke Kairo, Godok Rencana Cabangkan Al-Azhar di Indonesia
Cinta Tak Tergenang Banjir: Pengantin Digendong Menuju Pelaminan
Musk Tuntut OpenAI dan Microsoft Rp2.000 Triliun, Klaim Dukung Saat Masih Seumur Jagung
Puncak Arus Balik Libur Isra Mikraj Diprediksi Capai 197 Ribu Kendaraan