“Kami akan memulainya pada kuartal satu 2026,” tegasnya.
Namun begitu, ada yang lebih menarik dari sekadar jadwal. Rupanya, mobil pertama yang keluar dari pabrik nanti bukanlah satu-satunya. BYD punya strategi produk yang lebih ambisius untuk Indonesia.
“Tentunya tidak hanya satu model,” imbuh Liu Xueliang.
“Kami akan memproduksi lebih dari satu model dari line produksi kami, kami saat ini tengah merampungkan evaluasi internal.”
Lalu, berapa besar investasinya? Menurut Liu, angka akhirnya sangat bergantung pada pasar. Rencana awal memang memproduksi sekitar 150 ribu unit per tahun.
Tapi dia menambahkan, “jika permintaan meningkat, maka kapasitas bisa dibesarkan.”
Pernyataan sang pimpinan tinggi ini jelas bukan sekadar basa-basi. Ia memberi legitimasi dan kepastian kuat tentang masa depan BYD di sini. Sekaligus jadi sinyal jelas: Indonesia bakal dijadikan hub produksi regional, bukan sekadar tempat merakit satu model mobil saja.
Artikel Terkait
Iran Tegaskan Penolakan Negosiasi dengan AS, Bantah Laporan Pembukaan Dialog
BMKG Pastikan Gerhana Bulan Total Terlihat di Indonesia pada 3 Maret 2026
Baku Tembak di Nabire, Aparat Sita Ratusan Amunisi dan Puluhan Juta Rupiah
Inflasi Februari 2026 Capai 0,68%, Didorong Kenaikan Harga Pangan