Iran Tegaskan Penolakan Negosiasi dengan AS, Bantah Laporan Pembukaan Dialog

- Senin, 02 Maret 2026 | 13:40 WIB
Iran Tegaskan Penolakan Negosiasi dengan AS, Bantah Laporan Pembukaan Dialog

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, dengan tegas menyatakan negaranya menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan keras ini sekaligus membantah kabar dari sejumlah media AS yang menyebut dirinya justru berupaya membuka kembali dialog nuklir.

Menurut laporan The Wall Street Journal, upaya itu konon dilakukan pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan gabungan yang ditudingkan kepada AS dan Israel. Namun, Larijani membungkus bantahannya dengan kecaman pedas.

“Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” tulisnya di platform X, tanpa basa-basi.

Unggahan itu berisi serangan verbal yang menyasar mantan Presiden AS, Donald Trump. Larijani menuduh Trump-lah yang telah menciptakan kekacauan di kawasan Timur Tengah.

“Trump telah menjerumuskan Timur Tengah ke dalam kekacauan dengan fantasi khayalannya. Dia sekarang takut akan lebih banyak korban jiwa dari pihak Amerika,” tulis Larijani.

Tak berhenti di situ, ia juga menuding Trump mengkhianati janji kampanyenya sendiri. “Dia mengubah slogan 'America First' yang ia ciptakan menjadi 'Israel First' dan mengorbankan tentara Amerika demi ambisi Israel yang haus kekuasaan,” katanya lagi. Kritiknya tajam, penuh nada frustrasi yang khas.

Di sisi lain, situasi di lapangan memang sudah memanas. Menanggapi pembunuhan Khamenei, Iran diketahui telah melancarkan serangan balasan besar-besaran. Sasaran mereka tidak hanya Israel, tetapi juga sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di berbagai titik di Timur Tengah. Aksi ini semakin mengukuhkan ketegangan yang sudah nyaris tak terbendung.

Jadi, klaim media AS tentang pembicaraan damai? Larijani sudah menepisnya habis. Lewat kata-kata keras dan serangan militer yang nyata, Iran sepertinya sedang menyampaikan pesan yang gamblang: tidak ada ruang untuk dialog, setidaknya untuk saat ini.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar